Nyelo Cantik Di Basecamp Mawar, Ungaran

Promasan

Tanpa adanya sebuah rencana, saya dan calon suami (sekarang sudah menikah) mendadak ingin liburan ke daerah dataran tinggi. Dari sekian tempat adem yang pernah saya kunjungi, saya merasa bahwa saya perlu pergi ke daerah baru. Sampai pada akhirnya Yugo mengajak saya untuk pergi ke Ungaran.

Meskipun cuaca saat itu kurang mendukung. Nyatanya kami tetap memutuskan untuk tetap pergi. Bukankah yang terpenting adalah persiapan yang matang ya?

Perjalanan menuju Ungaran membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam dengan menggunakan motor pribadi. Cuaca hujan yang tak menentu membuat kami harus berkali-kali berhenti. Meskipun pada akhirnya kami tiba di basecamp mawar tengah malam.

Selama perjalanan, saya sempat berdebat dengan suami. Meskipun saya tidak tahu pasti, saya termasuk orang yang mudah mengingat. Nyatanya jalan yang dipilih Yugo adalah jalan terjauh untuk menuju basecamp, padahal jika sudah tiba di pasar Ungaran (entah benar atau tidak namanya) kami tinggal mengikuti jalan menanjak saja. Saya hanya bisa menggelengkan kepala dan tertawa. Intinya sih, satu arah dengan jalur menuju Umbul Sidomukti, dan di sanalah kamu akan mudah menemukan basecamp yang dimaksud.

Beruntung ketika kami tiba di sana, hujan sudah reda. Kami akan dengan mudah mendirikan tenda setelah mendapatkan spot terbaik di sana. Tak lama tenda kami berdiri, kami memilih memasak sesuatu untuk sekadar membuat tubuh kami kembali menghangat.

Sedangkan Yugo memilih berburu foto malam yang cukup dibilang sempurna. Bagaimana tidak, Kota Semarang tampak cantik dari ketinggian. Dan celakanya, saya langsung jatuh cinta dengan kota itu.

Tenda kami dengan view Kota Semarang
Tenda kami dengan view Kota Semarang

Hujan membuat kami kelelahan. Sampai pada akhirnya kami memilih untuk segera beristirahat. Tentu kami juga berganti pakaian terlebih dahulu, yang kemudian membiarkan baju kami yang basah tetap tersimpan dan akan kami jemur keesokan harinya.

Saking lelahnya, kami tidak sempat berburu sunrise. Meskipun terdengar banyak teriakan-teriakan pendaki lainnya, hanya saja kami memilih untuk mengabaikannya. Memilih menambah waktu istirahat agar lelah kemarin terbayar lunas. 😀

Pukul 08.00 akhirnya saya memutuskan untuk bangun. Menatap sejenak ke sekeliling tenda yang nyatanya banyak pendaki-pendaki sedang mengolah sesuatu untuk sarapan. Sedangkan saya memilih menjemur jaket dan baju kami terlebih dahulu. Bermodalkan tali hammock, saya mengingatnya di antara dua pohon yang akhirnya bisa saya jadikan sebagai jemuran.

Setelahnya, barulah saya memasak makanan untuk sarapan. Roti panggang dan coklat panas, cocok untuk cuaca di daerah pegunungan. Dan tak lama kemudian Yugo pun bangun setelah sarapan siap.

Jemuran
Jemuran

 

Menu sarapan kami.
Menu sarapan kami.

Sesiang ini tidak ada aktifitas apapun yang kami lakukan.  Karena tujuannya awalnya bukan untuk mendaki gunung Ungaran, nyatanya hawa sejuk di area basecamp membuat kami malas untuk beranjak. Kami hanya tiduran, hammockan dan berdiam diri tanpa melakukan apapun. Selo banget kan?

Sebenarnya ada alasan lain mengapa saya ingin kesini, saya ingin menikmati hamparan kebun teh di sepanjang jalur menuju ke Gunung Ungaran, orang menyebutnya Kebun Teh Promasan. Untuk menjangkaunya kami perlu trekking kurang lebih 1,5 jam dari Basecamp Mawar. Jalannya cukup landai dan cocok bagi pendaki pemula seperti saya. 😀

Jalur ke Kebun Teh Promasan
Jalur ke Kebun Teh Promasan

Dan waktu cepat berlalu, kini hamparan kebun teh yang luas sudah ada di hadapan saya. Sayangnya waktu kami terbatas, hari mulai gelap, kami tak berbekal apapun waktu itu. Alhasil kami harus segera kembali ke basecamp.

Hujan mulai turun ketika kami tiba di basecamp. Dan beruntung, kami bisa menghindarinya. Tuhan memang baik ya! Sebelum kembali ke tenda, kami menyempatkan sejenak untuk menikmati teh di sebuah warung yang ada di sana. Memilih menikmati makanan di warung daripada harus memasak lagi. Belum dengan cuaca hujan seperti ini. Melihat pemandangan kota Ungaran dan Semarang dari ketinggian memang menjadi pilihan yang telat saat itu. Rasanya nggak mau segera berpaling.

Setelah puas menikmati pemandangan hingga pada akhirnya kabutpun mengusir kami. Kami memutuskan untuk kembali ke tenda dan beristirahat. Karena keesokan harinya kami harus kembali ke kota.

Keesokan harinya, kamipun segera bertolak ke Jogja. Dan kami melewatkan Umbul Sidomukti karena waktu kami sangat terbatas. Berharap akan ada kesempatan lain untuk mampir ke sana lagi. 😀

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan