Saya Bukan Traveler

“Eh, Kamu hobi traveling ya? Kamu itu traveler ya?”

Museum Angkut+, Malang
Museum Angkut+, Malang

Begitulah kalimat yang sering saya dengar dari beberapa teman yang belum lama saya kenal. Traveling saat ini sudah mendunia di berbagai belahan dunia. Jika kamu melakukan riset ke beberapa orang, saya pun yakin mereka akan memilih untuk jalan-jalan daripada hanya terdiam dirumah.

Saya memang menyukai aktivitas outdoor seperti naik gunung, ke pantai, hingga menjelajahi kota orang. Tapi sejujurnya saya kurang begitu nyaman dengan embel-embel traveler. Siapa sih saya ini?

Gunung Merbabu via Wekas
Gunung Merbabu via Wekas

Menurut saya, seseorang itu bisa dipanggil sebagai traveler jika memang profesinya setiap hari bahkan setiap saat adalah traveling, bukan sebagai karyawan. Saya merasa bahwa saya hanya seorang karyawan di sebuah perusahaan yang bisa jalan-jalan karena memperjuangkan cuti tahunan.

Saya bisa makan, bisa jalan-jalan, bahkan saya bisa traveling ya karena saya bekerja sebagai karyawan. Jadi stop memanggil saya sebagai traveler maupun pendaki gunung. Saya bukan traveler.

Malioboro, Yogyakarta.
Malioboro, Yogyakarta.

Memiliki label nama traveler itu berat tanggung jawabnya. Seorang traveler tentunya sudah hampir seluruh belahan dunia dijelajahi, nah saya? Ke Labuan Bajo saja, saya masih bingung bagaimana cara menabung uangnya. Lebih parahnya lagi, untuk menjelajahi surga dunia saya masih perlu berjuang untuk mendapatkan cuti tahunan sebagai hak saya.

Umbul Sidomukti, Ungaran
Umbul Sidomukti, Ungaran

Seorang pendaki gunung yang sesungguhnya adalah seorang pendaki yang berhasil mencapai puncak dunia. Jangankan mendaki puncak tertinggi, nanjak dua jam saja ngocehnya seharian. Naik gunung itu melelahkan, apakah saya masih pantas disebut pendaki gunung?

Jika sama-sama bermimpi, sayapu juga ingin keliling dunia. Namun, semua hal itu tidak bisa diwujudkan dengan mudah karena saya bukan traveler. Saya masih perlu berjuang. 😀

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan