Bernostalgia Dengan Alat Transportasi Masa Lampau di Museum Angkut+, Batu.

Museum Angkut+

Dan besok saya libur sehari, pas sekali, kebetulan saya pengin sekali ke Batu. Saya penasaran dengan museum yang konon merupakan museum terbesar se Asia Tenggara yang mengambil tema alat transportasi dunia. Waktu itu suami saya masih gampang libur semaunya. Dan saya memutuskan untuk pergi ke Batu malam itu juga. Perjalanan ini cukup ekstrim, bermodalkan satu hari, saya hanya ingin menjelajah Museum Angkut+, Batu, Malang.

By the way, bus malam jurusan Jogja – Surabaya terkenal dengan ugal-ugalannya. Namun, saya cukup bernyali dan tenang-tenang saja ketika mengendarainya. Tak sadar sudah subuh, saya telah tiba di Kota Jombang dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus antar kota yang menghubungkan Kota Jombang ke Kota Batu. Suami cukup tahu rute ke Batu, dulunya dia sudah pernah melakukan perjalanan ke sana. Waktu saya belum mengenalnya.

Beralamatkan di Jl. Terusan Sultan Agung No. 2 Kota Batu, Malang, saya tiba juga di pintu gerbang utama Museum Angkut+ dengan berjalan kaki. sekadar info saja bahwa Museum Angkut+ buka pukul 12.00 – 20.00.

Gelang Pengunjung Museum Angkut+
Gelang Pengunjung Museum Angkut+

Untuk bisa menikmati Museum Angkut+ saya mengeluarkan biaya retribusi sebesar 100.000 saja. Dan sudah bisa menjelajah seluruh area museum, dan dikenakan biaya 35.000 untuk sebuah kamera.

Area utama, banyak mobil, sepeda, dan motor jaman dulu. Dari sini saya mulai jatuh cinta dengan Museum Angkut+, karena pada dasarnya saya menyukai mobil jadul sih. 😀

Mainhall Museum Angkut+
Mainhall Museum Angkut+

Banyak alat transportasi yang dipamerkan disini, dari transportasi jaman dulu dari berbagai negara dan juga transportasi tradisional seperti sepeda onthel, becak, alat pembajak sawah, sampai gerobak ada disini. Museum ini keren banget pokoknya.

Onthel Pengakut Kayu
Onthel Pengakut Kayu

Selain memamerkan berbagai macam alat transportasinya, Museum ini juga menampilkan berbagai macam atraksi yang bisa menjadi daya tarik para pengunjung. Seperti Open Gate, Spiderman Show, Parade Museum Angkut+ Movie Star Studio, Divas On Broadway, dan juga Three Elemental Show.

Parade
Parade Museum Angkut+ Movie Stars Studio

Menjelajah sudah, nonton atraksi Parade Museum Angkut+ Movie Stars Studio sudah. Saya juga mampir di Museum D’topeng dan Pasar Apung yang terletak di setelah pintu keluar museum. Museum D’topeng merupakan museum yang menyimpan berbagai macam jenis kain khas Indonesia, senjata jaman dulu, patung sampai berbagai jenis topeng dari beragam daerah.

Beruntungnya saya, saya ditemani guide yang lucunya nggak ketulungan. Dia seorang pria tinggi, tapi saya lupa menanyakan siapa namanya. Yang beginian ini yang selalu bikin kangen bepergian, entah di mana saya berada, selama ada banyak orang yang membuat saya tertawa, saya akan mengatakan bahwa daerah ini patut dijelajahi. Dimanapun itu.

Museum Angkut+
Museum Angkut+

Setelah lelah menjelajah, saya mampir ke Pasar Apung Nusantara yang tak jauh dari Museum D’Topeng. Di pasar apung ini, banyak pedagang menjajakan mulai dari jajanan pasar, minuman, suvenir, hingga oleh-oleh khas Batu.

Pernak-pernik Kalung
Pernak-pernik Kalung

Saya pun tergoda untuk membeli pernak-pernik yang dijual disini. Saya membeli kalung, gelang dan gantungan kunci yang diukir dengan nama saya dan suami. Hingga pada akhirnya saya merasa bahwa perjalanan ini sungguh sempurna. Setidaknya bisa jadi kenangan bahwa saya pernah bernostalgia. 😀

 

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan