Menjelajah Taman Nasional Baluran Dengan Cara Berbeda.

Konon, Taman Nasional Baluran merupakan replika dari padang savana yang ada di Afrika. Apalagi rerumputan yang berwarna keemasan terbentang luas menambah kesan Afrikanya. Lantas, bagaimana jika saya menjelajah Taman Nasional di musim hujan?

Waktu itu saya sengaja berangkat pagi hari. Perjalanan menuju Baluran ini membutuhkan waktu kurang lebih dua jam. Dihitung dari tempat saya menginap sampai pintu gerbangnya saja. Namun untuk masuk ke Savana Bekolnya, kabarnya masih harus di tempuh kurang lebih 45 menit dari tempat pembelian tiket.

Bahagianya saya sudah tiba di tempat retribusi, berarti saya sudah dekat dengan satwa liar yang tinggal di sana, namun apa yang saya perkirakan adalah salah besar. Jalanan yang berlubang tanpa aspal masih harus saya lewati dengan lihainya. Sesekali saya berpapasan dengan polisi hutan yang sedang patroli, namun jarang sekali saya menemukan pengunjung yang datang ke sini. Mungkin karena hari biasa dan musim hujan.

Polisi Hutan Taman Nasional Baluran
Polisi Hutan Taman Nasional Baluran

Savana Bekol merupakan ikon utama dari Taman Nasional Baluran itu sendiri. Hamparan padang savana yang luas dengan view pegunungan dan berbagai macam satwa ada di sini. Jika beruntung sesekali akan bertemu dengan satwa liar yang tak sengaja melewati jalur yang saya lewati juga. 

Waktu itu saya kurang enak badan. Dan memutuskan untuk mampir ke warung dekat cottage yang tak jauh dari Savana Bekol untuk sekadar menyeruput secangkir teh dan minum obat tentunya.

Melakukan perjalanan di saat kondisi badan kurang fit sungguh tak enak. Kepala saya pusing dan pucat sebenarnya, namun karena saya sudah jauh-jauh ke Banyuwangi, rasanya sayang jika harus melewatkannya. Berbagai cara saya lakukan, minum obatpun tak terlewatkan setidaknya agar kondisi badan lebih baik.

Meskipun tidak fit, tapi tetap jalan.
Meskipun tidak fit, tapi tetap jalan.

Di kondisi saya yang sakit, saya adalah salah satu orang yang paling beruntung. Saya menemukan kawanan kerbau yang sedang merumput dan berjemur di savana itu sendiri. Tak jarang pula ada banyak monyet liar yang berkeliaran di sekitar area dimana saya berhenti, tentunya mereka mengincar apa yang saya bawa.

Monyet liar.
Monyet liar.

Setelah asik berfoto dengan kawanan kerbau dan menikmati udara segar pegunungan, saya lanjut perjalanan ke Pantai Bama. Saya sengaja tidak explore Goa Jepang yang ada di Baluran karena kondisi saya yang kurang fit tentunya. Sepanjang perjalanan menuju Pantai Bama, saya juga menemukan kawanan rusa yang sedang berkeliaran. Tanduk yang kokoh dan mempesona, begitulah kesan pertama saya ketika melihatnya.

Kawanan Rusa.
Kawanan Rusa.

Tiba di Pantai Bama, saya hanya duduk-duduk saja di bibir pantainya. Pantai ini cukup tenang dan tak berombak. Di sisi kiri dan kanan terdapat hutan bakau. Dan banyak monyet liar yang berkeliaran tentunya. Karena hari sudah mulai mendung, saya memutuskan untuk segera pulang. Dan lagi-lagi saya harus melalui jalanan berlubang.

Pantai Bama
Pantai Bama

Di tengah perjalanan, hujan pun mulai turun. Untung saja saya membawa jas hujan yang sengaja saya beli di toko sebelum saya tiba di Baluran. Sesekali saya harus berteduh dan merelakan celana dan sepatu saya penuh lumpur karena jas hujan yang terlalu pendek. Menikmati Taman Nasional Baluran di musim hujan tak kalah menarik di bandingkan menjelajah di musim kemarau. Setiap perjalanan memiliki ceritanya sendiri-sendiri. Bahagianya saya bisa menikmati Baluran meskipun dulunya saya tak pernah kepikiran akan datang ke sini.

Taman Nasional Baluran
Taman Nasional Baluran.

Kamu pernah mejelajah Taman Nasional Baluran di musim hujan seperti saya? Mana ceritamu? Tentunya jaga kondisi badan tetap fit ya, melakukan perjalanan dengan kondisi badan kurang fit memang menurunkan kadar kesenangan yang saya rasakan. So, jangan nekat bepergian jika nyali kamu tak cukup untuk menahan rasa sakit ya! 😀

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan