Bukit Langara, Perpaduan Dari Sungai Dan Hijaunya Pegunungan.

Puncak Langara

Perjalanan kali ini merupakan perjalanan pertama saya menginjakkan kaki di Kalimantan tepatnya di Kalimantan Selatan. Karena travelmate saya merupakan orang asli daerah sini, saya merasa tenang dan aman ketika menginjakkan kaki di sini. Pagi itu, selesai sarapan, saya segera berkemas untuk menjelajah beberapa destinasi wisata yang bisa di kunjungi. Salah satunya adalah Bukit Langara.

Terletak di daerah kecamatan Hulu Sungai Selatan, deretan pegunungan Meratus ini menawarkan banyak destinasi wisata. Ya, Bukit Langara salah satunya. Untuk menjangkaunya, saya perlu melaju menggunakan sepeda motor, karena memang belum ada kendaraan umum yang melewatinya.

Jaraknya jangan di tanya, cukup melelahkan dan jujur saya merasa terancam. Bagaimana tidak, untuk sampai di bukit ini, saya harus membelah luasnya hutan, dimana banyak hewan berkeliaran sesukanya. Belum lagi mitos tentang Suku Dayak yang bikin merinding sekaligus penasaran.

Kurang lebih dua jam saya melaju, akhirnya saya tiba di pintu masuk Bukit Langara. Bak hutan tak terawat, dan cukup lebat gelap gulita. Untuk sampai di puncaknya, saya perlu mendaki kurang lebih 30 menit. Bukit ini sepi pengunjung, atau mungkin karena saya datang di hari biasa ya. Banyak nyamuk di sana, jika kamu ingin menjelajahi hutan. Jangan lupa bawa lotion anti nyamuk ya, jangan tiru saya, sampai puncak tahu-tahu bentol sana sini. 😛

Sesampainya di puncak, saya merasa lega. Sepanjang perjalanan yang membuat saya takut, terbayar lunas ketika sampai di sini. Hamparan pegunungan Meratus yang gagah dan hijau menyembuhkan segala lelah saya. Dari puncak sini, saya juga bisa melihat Sungai Amandit yang membelah lebatnya hutan. Konon, sungai ini biasa di gunakan untuk festival bamboo rafting Loksado. Tedapat pula berbagai macam bukit, namun entah saya lupa menanyakan bukit apa namanya. Di sini masih benar-benar alami dan masih kental sekali akan budayanya.

Sungai Amandit
Sungai Amandit

Rasanya belum puas menikmati, namun saya harus segera turun, karena hari sudah mulai sore, belum untuk kembali ke kota saya harus menempuh waktu yang lama.

Puncak Langara
Puncak Langara

Sepanjang perjalanan saya juga menemukan satwa liar seperti bekantan, berkeliaran dengan bebasnya. Ah rasanya sepi dan nyaman kehidupan di sini. Tanpa polusi dan hiruk pikuk aktivitas penduduknya. Sesekali saya merasa bahagia ketika melihat beberapa warga lokal berbicara dengan bahasanya. Dan inilah Indonesia, beragam dan istimewa.

Puncak Langara
Puncak Langara

Di tengah perjalanan, saya juga tak lupa mampir untuk sekadar mencicipi kuliner khas Kandangan. Ketupat Kandangan ini merupakan salah satu makanan khas Kalimantan, ketupat yang di sajikan dengan kuah santan dan biasa ditambahkan ikan, ayam atau telur ini bisa di nikmati dengan menggunakan tangan, dan menurut saya kuliner ini unik. Bagaimana bisa saya menikmati ketupat ini, jika saya harus memakannya dengan tangan, sedangkan itu ada kuahnya. 😀

Ketupat Kandangan. (Sumber: diakuin.blogspot.com)
Ketupat Kandangan. (Sumber: diakuin.blogspot.com)

Ah, kelak saya akan kembali, meskipun hanya sekadar mencicipi kuliner lainnya. Kalau kamu, sudah pernahkah ke Bukit

 

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan