Sego Abang Gunungkidul, Kuliner Pemikat Para Traveler

Sego Abang Gunungkidul

Jika ditanya soal bab makanan, saya lebih sering berantem dengan suami saya ketimbang berdebat soal tujuan wisata. Suami saya paling susah makan seadanya, perlu ada kandungan empat sehat lima sempurna. Tapi, percayalah itu hanya pencitraan.

Pagi itu sepulang dari camping di Hutan Pinus Pengger, saya dan suami melanjutkan perjalanan ke arah pantai Gunungkidul. Dengan kondisi perut keroncongan tentunya kami perlu beristirahat sejenak untuk sarapan.

Karena saya tipikal orang yang cukup mengerti kondisi suami dan doyan segala kecuali yang pedas, saya selalu menyuruh suami saya yang menentukan mau sarapan apa nanti. Serasa ribet sih ya, tapi itulah uniknya suami saya.

Di perjalanan suami saya menemukan kuliner tradisional tapi sepi, Sego Abang Gunungkidul namanya. Awalnya saya ragu, tempat ini layak untuk dikunjungi, tapi mengapa sepi, apakah makanannya kurang enak atau mahal harganya. Ah sudahlah, akhirnya kami memutuskan untuk mampir.

Sego Abang Gunungkidul
Sego Abang Gunungkidul

Tiba di depan warung, kami pun perlu permisi karena tak ada satu orangpun yang berjaga. Ternyata si pemilik warung ketiduran di kursi. Merasa tak enak, saya keluar begitu saja. Namun, tiba-tiba ibu tersebut terbangun. Dan mempersilakan kami masuk.

Untuk makanannya prasmanan, terdapat menu tradisional yang banyak macamnya. Ada dua nasi pilihan yaitu nasi putih atau nasi merah, untuk sayurnya ada banyak macamnya, yaitu brongkos, sayur tempe lombok ijo, sayur lodeh, oseng daun pepaya, oseng tempe lombok ijo, pecel dan sayur asem. Dan lauknya ada ayam goreng bacem, ampela ati, tempe bacem, tahu bacem, dan kepala ayam. Selebihnya warung ini menyediakan menu ala carte seperti warung pada umumnya.

Interior Sego Abang Gunungkidul
Interior Sego Abang Gunungkidul.

Sayangnya waktu itu saya tak sempat memotret makanan yang ada, tapi untuk soal rasa enaknya luar biasa. Suasana warung yang sepi, saya pun penasaran dengan interiornya, rapi dan bersih. Saya juga menyempatkan untuk berkeliling untuk mengambil gambar, tentunya dengan seijin pemilik warungnya.

Sebelumnya saya pikir ini adalah warung biasa tapi ternyata, interiornya memesona. Banyak barang-barang jadul yang dipajang di sana, seperti lukisan, tv jadul, jam jadul, topeng-topeng motor jadul sampai sepeda onthel. Terdapat pula mushola, toilet duduk, dan juga meja besar khusus, mungkin biasa digunakan untuk rombongan.

Selesai berfoto ria dan hari mulai terik, saya segera berkemas dan membayar tagihan sarapan kami. Di luar dugaan. Dengan lima porsi nasi merah (tiga dibungkus), es teh dan es jeruk. Saya hanya membayar 52.500. Saya cukup tercengang dengan tagihan itu, sudah murah, ramah, enak, dan mewah pula. Ah rasanya puas sekali saya.

By the way, jika kamu menjelajah Pantai Gunungkidul, kamu harus mampir ke sini. Terletak tak jauh dari pusat kota Wonosari, warung ini cukup mudah ditemukan. Jika sudah mengunjunginya, ceritakan pengalamanmu juga ya! 😀

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan