Jelajah Tiga Pulau, Jawa, Bali, Kalimantan

Terakhir saya mengunjungi Bali adalah tahun lalu, sengaja menjejakkan kaki ke sana lagi karena travelmate saya, Yugo, ternyata belum pernah sekalipun menjejakkan kaki di Bali. Singkat cerita saya iseng saja mau menemani dia asalkan masukkan destinasi Banyuwangi ke salah satu rencana perjalanan kami. Sampai pada akhirnya, sebelas hari kami lalui untuk menjelajah Banyuwangi, Bali, dan Kalimantan Selatan. Sekalinya pergi, tiga pulau terlampaui.

Hari pertama, adalah Banyuwangi. Tanpa persiapan banyak, pagi itu kami melaju menggunakan kereta api Sri Tanjung dengan rute Jogja – Banyuwangi. Kurang lebih 14 jam perjalanan yang akan kami lalui, tak bisa dibayangkan selama itu kami di dalam kereta, tanpa aktivitas apapun. Tiba di Banyuwangi hari pun sudah larut, berbekal dengan perkenalan melalui media sosial, disitulah awal perkenalan kami dengan Mas Rachmat, pemilik rumah singgah gratis di Banyuwangi. Selama di Banyuwangi, akomodasi kami ditanggung secara gratis olehnya. Sumpah, orangnya baik banget.

Mas Rachmat

Di Banyuwangi selama tiga hari, kami menjelajah banyak destinasi. Mulai dari Pantai Watudodol, Taman Nasional Baluran, Pantai Bama, Pantai Teluk Ijo (Greenbay), Pulau Merah dan tak lupa kulineran khas kota tersebut, Nasi Tempong salah satunya. Sayangnya kami tak sempat mendaki Kawah Ijen waktu itu dikarenakan kondisi saya kurang sehat. Sampai pada malam terakhir, kami hanya menghabiskan waktu di rumah singgah untuk memulihkan tenaga dan melanjutkan perjalanan ke Bali.

 

Hari keempat, Kami melanjutkan perjalanan ke Bali. Dari stasiun Karangasem, kereta kami melaju ke stasiun Banyuwangi Baru, konon stasiun ini merupakan stasiun terakhir dan terdekat dengan pelabuhan Ketapang. Cukup berjalan kaki 10 menit, saya sudah tiba di pelabuhan tersebut. By the way, banyak calo yang menawarkan perjalanan menuju ke Bali. Karena waktu itu saya belum begitu fit, saya memilih untuk menggunakan jasa travel yang tersedia di pelabuhan tersebut. Setelah melakukan tawar menawar, akhirnya kami mendapatkan harga yang tak begitu mahal dibandingkan agen lain.

Perjalanan yang cukup menguras tenaga, yang seharusnya kami tiba di hotel pukul 18.00, namun karena macet dan perlu mengantarkan penumpang lainnya, kami tiba di Kuta pukul 21.00 dan cukup melelahkan. Tak banyak aktivitas yang kami lakukan waktu itu, makan malam dan istirahat.

Hari kelima, mendaki Gunung Batur hanya tinggal wacana, sisa lelah kemarin masih saja melekat dalam diri kami. Setelah check-out dari hotel, kamipun menuju rumah sahabat saya. Dan bisa tinggal di sana secara gratis selama di Bali sekaligus gratis pinjaman motor. Tak banyak destinasi yang kami kunjungi selama di Bali karena waktu yang ada telah habis untuk perjalanan dan pemulihan badan.

Hari keenam, siang itu kami mengunjungi Pantai Pandawa, dan menghabiskan waktu untuk menikmati sunset di Pantai Balangan. Hari ketujuhnya, kami mengunjungi Tanah Lot dan Pura Ulun Danu Beratan. Perjalanan yang cukup jauh ditempuh dari Nusa Dua dan musim hujan waktu itu membuat perjalanan kami sedikit terhambat. Namun pemandangan yang kami dapatkan sungguh tak begitu mengecewakan. Ya, setidaknya cukup untuk pemula pengunjung Bali untuk pertama kalinya. Disayangkan sekali, selama tiga hari di Bali, kami tak sempat mengunjungi Pantai Kuta. Mungkin itu pertanda bahwa kami harus kembali ke sana lagi. 😀

Hari ke delapan, kami mengambil rute Bali ke Banjarmasin dengan transit Surabaya. Karena memang belum ada rute langsung dari Bali ke Banjarmasin. Tiba di Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin tentunya perut juga keroncongan. Kami mampir untuk mencicipi Soto Banjar, konon makanan ini adalah makanan khas Banjarmasin. Saya pernah mencicipi makanan ini di Jogja, namun dari segi rasa berbeda jauh ternyata. 😀

Sisa dari sebelas hari itu kami habiskan di Banjarmasin. Melakukan perjalanan menjelajah pelosok Kalimatan Selatan sampai mencicipi kulinernya adalah agenda kami. Mulai dari menjelajah Air Terjun Haratai, mendaki Bukit Langara, menyusuri Sungai Loksado, kuliner Ketupat Kandangan, dan juga mencicipi Buah Pampakin yang sekalinya mencoba saya langsung jatuh cinta. Dan perjalanan ini pula, merupakan perjalanan saya untuk kali pertama berkenalan dengan keluarga besar Yugo.

Artikel terkait

4 Komentar

Tinggalkan Balasan