Konon, Belum ke Bandung Namanya Jika Belum ke The Lodge Maribaya

The Lodge Maribaya, destinasi kekinian yang beralamatkan di Jalan Maribaya, Babakan Gentong, Cibodas, Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat ini mulai santer terdengar oleh khalayak ramai sejak tahun lalu. Konon, The Lodge Maribaya ini merupakan pelopor tujuan wisata di ketinggian dengan menawarkan pemandangan hutan pinus yang asri nan hijau. Belum ke The Lodge Maribaya, belum ke Bandung namanya, begitulah candaan beberapa tukang cilok di pinggiran jalan kota Bandung.

Berangkat dari Tangkuban Perahu, saya kemudian melaju ke The Lodge Maribaya. Mengunjungi tempat wisata ini bak saya sedang mengunjungi sebuah desa di pinggiran kota. Tak ada fasilitas apapun yang memadai seperti supermarket, mall, pom bensin ataupun ATM centre, yang ada hanya terdapat desa di pinggiran, ladang warga sekitar, sekolah, bank dengan ATM terbatas, toko warga sekitar dan warung yang menjajakan panganan biasa di sana. Belum lagi jalanan yang penuh lubang dan tak beraspal menghambat perjalanan menuju ke sana.

Lantas, sepanjang perjalanan saya pun bertanya-tanya, โ€œApa yang membuat The Lodge Maribaya dicari banyak orangโ€. Karena penasaran, saya berharap segera tiba di sana. Perjalanan dari Tangkuban Perahu membutuhkan waktu kurang lebih 40 menit. Sekadar info saja, Curug Maribaya dengan The Lodge Maribaya itu adalah destinasi wisata yang berbeda ya, entah mengapa nama wisata di sana hampir tak ada bedanya. ๐Ÿ˜€

Tiba di parkiran, saya kemudian memarkirkan motor dan segera menuju ke counter penjualan tiket. Berhubung waktu itu weekend, saya pun harus siap jika harus berdesakan. Tiket masuknya setiap orang dikenakan biaya 20.000 saja. Dari konter penjualan tiket, saya hanya cukup menuruni tangga dan selamat datang di The Lodge Maribaya.

Sesak dan penuh dengan orang-orang yang sibuk dengan kameranya masing-masing. Begitulah kesan pertama saya. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan foto terbaiknya untuk dibagikan di media social milik mereka.

The Lodge Maribaya

Di sini terdapat beberapa wahana seperti, Mountain Swing, Tree Sky, Rumah Pohon, Sepeda Layang, dan yang terbaru ada gantole. Kurang lebih begitulah saya menyebutnya. Untuk menikmati wahana tersebut, saya perlu merogoh kocek mulai dari 15.000 sampai 20.000 sekali menggunakannya. Kurang lebih dalam waktu tiga menitlah saya berada di ayunan atau disebutnya mountain swing, dan begitu setiap menitnya bergantian dengan pengunjung lainnya. Selain menikmati tiga menit itu, tedapat pula fotografer handal yang membantu saya mengabadikan momen selama di ayunan (bukan Yugo).

Selain beberapa wahana yang saya sebutkan di atas. Terdapat pula restaurant, cafe bambu dan dengan gardu pandang, dan juga glamping. Jika kamu ingin menikmati suasana sejuk dengan background hutan pinus, di sinilah tempatnya. Sayang saja waktu itu saya sedang puasa. Tidak ada tempat untuk bersantai sejenak sih menurut penglihatan saya. Yang ada hanya cafe-cafe saja, jika ingin duduk ya belilah sesuatu di sana. ๐Ÿ˜€

Menuju pintu keluar, di sisi sebelah kiri terdapat tempat pengambilan foto dan semacam saung-saung yang menjajakan makanan khas Lembang. Bisa dijadikan alternatif jika kamu tidak sempat mampir ke toko oleh-oleh. Pengambilan foto itu sendiri, awalnya saya mengira sudah termasuk di dalam harga tiket masuk. Ternyata, untuk mengambil foto tersebut, saya perlu membayar 10.000/foto. Padahal waktu itu saya mengambil 4 foto. Tinggal dikalikan saja kan. ๐Ÿ˜€

Pendapat saya tentang The Lodge Maribaya, destinasi wisata ini cocok bagi traveler yang suka dengan berbagi foto-foto kekinian. Tentunya memenuhi kebutuhan kaum millenial saat ini. Traveler dengan budget pas-pasan seperti saya mah, urungkan saja rasa penasaran kamu untuk menuju ke sana. Sedih rasanya, susah payah saya menjangkaunya dengan fasilitas jalanan yang kurang baik, sesampainya di sana saya perlu merogoh kocek sedalam-dalamnya hanya demi tiga menit pertama tanpa menikmati apapun di sana.

Kalau kata orang, โ€œNamanya juga nyari rejeki Nengโ€. Mendengar kata-kata itu saya tidak bisa melakukan apapun. Begitulah orang memanfaatkan orang lainnya dengan mengetahui apa yang orang lain butuhkan demi kepopularitasan semata.

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan