Gunung Andong, Gunung Memesona Untuk Menikmati Sunset dan Sunrise

Mendaki sebenarnya bukan passion saya. Mendaki itu melelahkan dan seringkali membuat saya menyesalkan mengapa saya harus mendaki. Namun, dibalik penyesalan itu saya selalu saja penasaran dengan apa yang akan saya dapatkan ketika mendaki. Dan Gunung Andong, selalu memiliki alasan untuk membuat saya kembali menjejakinya.

Terletak di daerah Girirejo, Ngablak, Magelang, Gunung Andong yang dengan ketinggian 1726 MDPL ini cocok bagi pendaki pemula. Jalurnya yang landai dan terbilang nyaman membuat gunung ini memiliki keistimewaan tersendiri. Letaknya cukup strategis, dan gunung ini memiliki pemandangan yang menakjubkan. Tak hanya itu saja, dari sana pendaki juga bisa menikmati keindahan landscape kota Salatiga dan Solo dari puncaknya, berikut sunrise dan sunsetnya.

Sunrise Gunung Andong

Kali pertama saya menjejakkan kaki ke sana, Gunung Andong masih terbilang sepi, bagaimana tidak, waktu itu hanya ada satu rombongan yang mendaki bersama saya. Jujur saya nggak pernah bosan mendaki gunung ini, sudah hampir lima kali (kalau nggak salah) saya mendaki, namun pengalaman yang berbeda dan tak terlupakan membuat saya merasa bahwa gunung ini sangat istimewa. Gunung ini merupakan gunung favorit saya.

Mendaki Gunung Andong memang tidak seberat mendaki gunung dengan ketinggian di atas 3.000 MDPL dan waktu pendakiannya juga tidak memakan waktu lama. Namun meski ringan, saya harus tetap mengingat standar pendakian karena alam tidak bisa diprediksi, kan?

Jika ditempuh dari pusat kota Magelang, Gunung Andong bisa ditempuh kurang lebih satu jam perjalanan menggunakan sepeda motor. Saat ini sudah ada tiga basecamp yang digunakan sebagai tempat transit dan juga pendaftaran untuk para pendaki. Yakni basecamp Sawit, basecamp Gogik dan basecamp Pendem.

Untuk memulai pendakian via Dusun Sawit, bisa mengikuti jalur menuju ke Desa Girirejo. Jika tidak bisa menemukan lokasi basecamp, kamu bisa bertanya ke penduduk sekitar. Biasanya saya memulai pendakian via basecamp Sawit karena mudah untuk ditemukan. Untuk dua basecamp lainnya, saya belum pernah mencobanya.

Untuk Gunung Andong sendiri, terdapat beberapa puncak di sana, ialah puncak terendah yang dikenal dengan nama puncak makam. Lalu dilanjuti dengan puncak Jiwa, puncak Andong dan terakhir puncak Alap-alap yang berada pada bagian paling timur. Dan sedangkan puncak Andong adalah puncak yang paling tinggi diantara semua puncak yang dimiliki Gunung Andong.

Keadaan gunung Andong itu sendiri sudah berbeda dengan kondisi ketika pertama kali saya menjejakinya. Saat ini, setiap harinya gunung ini tak pernah sepi pendaki. Sudah terdapat pula warung-warung yang berdiri, yang selalu ramai jika hari libur telah tiba. Yang dulunya terdapat makam, saat ini sudah berubah menjadi sebuah pendopo indah sebagai tempat transit para pendaki.

Jika kamu ingin mendaki gunung ini, saya sarankan datanglah ketika hari biasa. Setidaknya jika kamu datang di hari biasa, kamu bisa menemukan sisi keistimewaan dari Gunung Andong ini sendiri, bukan hanya sekadar sampah dan ramainya pendaki yang sedang berlomba-lomba memburu keindahannya. Percayalah, tak lebih dari ramainya Pasar Tanah Abang jika lebaran tiba. 😛

By the way, tetap menjaga kebersihan dan kelestarian  alam sekitar kita merupakan tanggungnawab semua. So, jadilah pendaki yang bijak dalam menjaga kelestiarannya ya, agar kelak anak cucu kita bisa turut menikmatinya.

 

Catatan: Foto tersebut bukan foto saya, melainkan foto milik suami saya, sewaktu saya belum begitu mengenalnya. 😀

Artikel terkait

2 Komentar

Tinggalkan Balasan