Bukit Sekipan, Wajah Barunya Yang Mulai Jadi Destinasi Favorit di Tawangmangu

Pernah ke Bukit Sekipan? Ya, Bukit Sekipan terletak di Kalisoro, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah ini merupakan kawasan yang berada di lereng gunung lawu. Berada di ketinggian 1100mdpl, kawasan yang sering digunakan untuk camping ini, bisa menjadi alternatif bagi traveler yang ingin melakukan aktivitas outdoor tanpa membutuhkan banyak tenaga untuk hiking.

Beberapa bulan yang lalu, saya kali keduanya pergi ke Sekipan bersama suami. Berbeda dengan tahun lalu, kali ini area yang sering digunakan untuk camping sudah banyak yang berubah. Saya sengaja memilih destinasi ini karena saya memang rindu jalan-jalan. Wajar saja, setelah menikah, ini baru kali pertama saya dan suami pergi camping.

Sekipan mulai berbenah, begitulah kata saya. Menuju gerbang camping ground, dulunya saya hanya mendapati ladang nan hijau. Namun saat ini sudah banyak homestay, hotel, bahkan rumah makan di kanan kiri jalan.

Memasuki gerbang Sekipan, saya diberhentikan petugas untuk membeli tiket masuk, dulunya sih masih gratis, karena waktu itu saya berkunjung pas weekday dan sudah larut malam, dimana penjaga loket tidak ada yang standby disana. Cukup dengan membayar 10.000 saja, saya sudah bisa masuk ke area camping ground ini.

Bertepatan dengan long weekend, area ini sangat ramai. Banyak dari komunitas bahkan pelajar sedang melakukan persami (perkemahan Sabtu dan Minggu) bersama. Banyak banner yang terpasang menandakan bahwa beberapa komunitas memang memilih Sekipan sebagai alternatif aktivitas outdoor yang mudah dijangkau untuk mereka. Bahkan ada pula yang melakukan outbond, training atau hanya sekadar ingin melampiaskan hasrat kurang piknik mereka, termasuk saya.

Setahun yang lalu, hanya ada beberapa fasilitas saja di sana, itupun masih belum memadai. Seperti toilet yang kurang terawat misalnya, namun saat ini sudah ada beberapa perubahan yang membaik. Toilet yang didukung penerangan yang memadai, tempat sampah yang banyak, lampu-lampu sebagai penerangan, dan juga pengelola yang standby setiap saat sudah ada di sana saat ini.

Saya memilih area camping yang agak jauh dari pintu masuk. Kurang lebih saya membutuhkan waktu 5 menit dengan hiking untuk menuju ke area tersebut. Karena masih sore, saya pun masih bisa menikmati pemandangan sekitar. Aliran sungai yang cukup lumayan deras memberikan suasana yang nyaman di area tenda saya, tanpa signal ponsel tentunya.

“Sesekali pergilah ke suatu tempat di mana kamu tidak menemukan signal apapun. Dengan begitu kamu akan tahu bahwa sejenak melupakan beratnya aktivitas di luaran sana dan menjauh dari jangkauan orang sekitar untuk sementara itu perlu.” —Hijab Traveler

Karena terlalu sore, saya sempatkan mampir di warung yang tidak jauh dari pintu masuk, sembari bertanya apakah ada kayu bakar yang dijual disana. Kayu bakar dibanderol dengan harga yang lumayan mahal, satu ikat dengan Rp35.000 . Dan saya pun segera menyiapkan api unggun. Dinginnya suhu disana memaksa saya untuk segera menyalakan korek apinya. Dengan sekuat tenaga saya dan suami berusaha untuk segera menyalakan kayu bakar itu.

Dan wohoooo, api unggunpun menyala. Suasana hangat sambil bercengkerama dengan suami adalah momen yang jarang dilakukan. Wajar saja, kami memiliki aktivitas masing-masing untuk menyambung kehidupan kami sehari-hari. Bercerita dan berbagi, begitulah hingga larut malam tiba, tak lupa juga saya sempatkan untuk mengabadikan momen ini dengan berfoto ria. Memang melelahkan, hanya saja kegiatan seperti ini memberikan energi tersendiri bagi saya.

Paginya, suara kicauan burung di sana membangunkan saya. Dengan mematikan alarm ponsel, saya terbangun dan membuka pintu tenda saya. Udara yang segar dan nyanyian burung pagi itu memberikan penyegaran bagi tubuh dan otak saya. Sontak saya pun keluar dan menikmati pemandangan pagi hari. Tak lama juga, suami saya terbangun. Dan kami pun menyempatkan untuk jalan-jalan di area sekitar, anggap saja sambil olahraga.

Ada beberapa spot menarik yang tak lupa saya abadikan, tentunya ketika pertama kali saya ke sana spot ini belum ada.

Penanjakan.

Penanjakan merupakan spot baru di Sekipan, semacam anak tangga yang menjulang ke atas. Tentunya, kamu harus mencoba untuk mendaki spot ini, hitung-hitung sambil olahraga. Instagramable banget pokoknya, dan jangan lupa untuk menghitung anak tangganya juga ya.

Panggung

Karena Sekipan sering digunakan untuk area camping dan outbond untuk semua kalangan, pengelolapun membangun sebuah panggung dimana area tersebut bisa digunakan dalam sebuah acara. Jajaran kayu yang disusun sebagai tempat duduk menambah nilai plus menurut saya, setidaknya peserta yang sedang menggunakan area ini, tak perlu glesotan tentunya.

Super Camp Welit.

Masuk di area ini, saya serasa sedang di Wae Rebo. Miniatur rumah yang hampir mirip dengan Desa Wae Rebo ini adalah salah satu fasilitas yang ada di Sekipan. Jika kamu ingin camping tapi tidak mau repot, kamu cukup menggunakan fasilitas ini. Penginapan Super Camp Welit ini harganya sangat terjangkau. Kamu cukup membayar 150.000 (weekday) dan 200.000 (weekend) saja, kamu sudah bisa menginap di sana. Tentunya tanpa listrik dan colokan ya!

Dari sekian fasilitas yang sudah ada di sana, tetap jaga kebersihan areanya ya, jangan tinggalkan sampahmu sembarangan karena sudah di sediakan tempat sampah tersendiri. Hijaunya Bukit Sekipan akan selalu tetap hijau, jaga kelestariannya sampai nanti bisa dinikmati anak cucu kita. Ini adalah tanggung jawan kita bersama.

Jadi, destinasi wisata mana yang menjadi favorit bagi kamu? Sekipan bisa menjadi pilihan bijak bagi kamu yang ingin sejenak meninggalkan hiruk pikuk keramaian kota. Jika berkunjung ke Tawangmangu rasanya kurang lengkap jika tidak menikmati sate kelinci. Sempatkan sejenak juga ya untuk sekadar mengisi perut lapar selama disana.

Artikel terkait

4 Komentar

Tinggalkan Balasan