Uji Adrenalinmu Dengan Menyeberangi Jembatan Pantai Timang

Demi cintaku padamu, samudra pun akan kuseberangi”, begitulah rayuan seorang lelaki untuk pasangannya.

Nah buat kamu seorang cewek yang pernah mendapat rayuan dari pasangan kamu. Ajak saja ke Pantai Timang! Dijamin bakalan ketahuan mana rayuan, mana beneran. 😛

Minggu kemarin saya dan suami saya mendapat kesempatan untuk liburan bareng. Maklum, resiko libur dirotasi memang jarang sekali mendapat libur weekend apalagi bersamaan. Alhamdulillah!

Beberapa hari sebelumnya, saya sudah merengek ke suami untuk pergi ke pantai karena rasa penasaran saya dengan Pantai Timang. Meskipun saya tahu, bakalan merusak mood suami jika tetap dipaksakan pergi ke pantai. Dia memang susah diajak pepanasan apalagi ke pantai. Di sepanjang jalan saya hanya bisa berdoa agar mood dia baik-baik saja. 😀

***

By the way, Pantai Timang sendiri merupakan salah satu dari puluhan pantai yang ada di Gunungkidul. Terletak di kawasan Purwodadi, Tepus, Gunungkidul, pantai ini masih terbilang sepi oleh pengunjung. Kurang lebih 35km dari pusat kota, pantai ini bisa ditempuh dengan kendaraan apa saja. Namun untuk jalur dari jalan utama ke Pantai itu sendiri kamu perlu menerobos jalanan berkarang sepanjang tiga kilometer. Tentunya kamu perlu mempersiapkan kendaraan khusus untuk menuju ke sana.

“Jadi, apa sih keistimewaannya?” ujar saya dalam hati.

Pantai yang konon memiliki gondola ekstrim ini sangat membuat saya penasaran. Jalanan berkarang saya terobos dengan berbagai macam doa. Berharap motor saya dan saya akan baik-baik saja. Maklum jalan bebatuan itu sangatlah licin, jika tidak berhati-hati melesetlah sudah motor kami. Untung pula ban motor saya hari itu sudah saya ganti dengan yang baru. 😀

Di perbatasan desa, sebelum masuk di jalanan bebatuan, saya mendapati kerumunan warga yang sedang berkumpul. Oh, ternyata mereka adalah PAGOJET, Paguyuban Ogek Pantai Timang. Mereka-mereka inilah yang menjual jasanya ke pengunjung, bagi yang kurang cukup nyali untuk menerobos jalan bebatuan dan licin sepanjang tiga kilometer. Hanya dengan membayar Rp50.000 saja, kamu akan diantarkan pulang pergi sampai Pantai Timang. Namun, saya masih saja memilih menggunakan motor matic milik saya sendiri.

Tiga kilometer itu nggak deket loh, kami sempat beristirahat sejenak karena selama mengendarainya tangan kami pegal-pegal dibuatnya. Namun, tak lama kemudian di belakang saya terdapat mobil jeep yang akan menuju ke Pantai Timang juga. Sopir tersebut berhenti, dan menawari tumpangan gratis untuk saya. Tanpa berfikir panjang, saya langsung naik di sebelah sopir jeep tersebut. Sedangkan suami saya, tetap membawa motor dan mengikuti dari belakang.

Tak sekadar ngobrol di jeep, saya juga sempat berkenalan dengannya, Mas Harus namanya. Salah satu warga lokal yang begitu ramah dan dengan lincahnya bercerita tentang Pantai Timang. Waktu itu dia sedang membawa tamu dari Malaysia. Dan katanya, kebanyakan tamu yang menggunakan jasa mereka adalah tamu Malaysia yang juga penasaran dengan keistimewaan Pantai Timang.

Bagi kamu yang kurang nyaman menggunakan ojek yang disediakan olah warga lokal, jangan khawatir. Di sana disediakan pula jasa jeep yang akan mengantarkan kamu ke Pantai Timang. Harganya kisaran Rp350.000 satu jeep, dan muat untuk enam orang. Dengan menerobos jalan bebatuan yang licin, sangat direkomendasikan untuk memilih jeep saja sebagai alternatif transportasi ke Pantai Timang. Soal waktu tidak dibatasi kok, mau berapa lama kamu di sana, sang sopir akan setia menunggu kamu. 😀

Tiba di sana, Pantai Timang sebenarnya terlihat biasa aja. Hampir semua pantai di Gunungkidul memiliki kesamaan serupa, terdiri atas tebing dan karang. Namun, yang membedakan adalah Pantai Timang memiliki gondola dan jembatan istimewa yang akan siap menguji adrenalinmu.

Dulunya, gondola ini sebenarnya merupakan alat transportasi nelayan untuk menyebrangi tebing, untuk mencari lobster di Tebing Watu Panjang. Namun seiring berjalannya waktu, gondola ini semakin diminati para pengunjung, sehingga sampai detik ini, gondola sudah dikomersilkan dan bisa disewakan untuk pengunjung. Harganya pun relatif murah, dengan harga Rp150.000 kamu sudah bisa menyeberanginya pulang pergi. Mengapa saya menganggap harga tersebut terbilang murah, karena untuk menarik gondolanya saja butuh tenaga kuat untuk sampai di tebing seberang. Maklum, para warga masih menggunakan cara tradisional untuk menarik gondolanya.

Jika gondola masih saja terbilang mahal bagi kamu, jangan khawatir. Di sebelah gondola terdapat pula jembatan yang siap mengantarkan kamu ke tebing Watu Panjang. Di sana akan ada pemandu yang siap menemani kamu sampai ke tujuan. Jadi menurut saya jembatan ini aman. Akan lebih keren lagi, jika ombak besar bertabrakan dengan karang, kamu akan terhujani oleh air lautan. Dan itu keren. Tapi, jangan berlarian ya, karang yang tajam akan sangat berbahaya jika kamu bebas berlarian. Amannya, kamu cukup pasrah dengan air lautan. 😀

Selain terdapat gondola dan jembatan, terdapat pula gardu pandang yang bisa dijadikan sebagai spot foto. Dengan membayar Rp5.000 saja, kamu sudah bisa berswafoto sepuasnya.

Jika kamu kelaparan atau kebelet, nggak perlu khawatir. Semakin ke sini, warga lokal paham akan kebutuhan dan fasilitas pengunjung kok. Banyak warung dan toilet berjajaran berdiri di sana. Tentunya cukup jika hanya sekadar membuat perut kamu kekenyangan. 😀

Ke Pantai rasanya kurang lengkap jika tidak menikmati sunset di sana. Konon, pantai Timang merupakan pantai sempurna untuk menikmati matahari terbenam loh. Ditemani dengan sunset dan secangkir kopi, liburan akhir pekanmu akan terasa sempurna. Sayangnya saya belum sempat menyaksikannya.

Ini cerita liburan saya, bagaimana dengan kamu? 😀

Artikel terkait

3 Komentar

Tinggalkan Balasan