Lurik Dibyo, Kerajinan Lurik yang Hampir Termakan oleh Usia

Sebenarnya sudah sejak dari dulu saya begitu tertarik dengan lurik, batik, tenun atau semacam kain khas yang di produksi di suatu daerah khususnya Indonesia. Awalnya berkenalan dengan kerajinan lurik Dibyo pun merupakan momen yang hanya kebetulan saja, mengenal melalui salah satu festival kerajinan daerah yang ada di Jogja, kesempatan untuk mengulas dan mengenal lebih jauh tentang kerajinan lurik yang hampir termakan usia ini semakin dekat, pikir saya.

Dan waktu itu, saya berkesempatan bertemu dengan Mas Jussy Rizal, salah satu owner sekaligus pengelola Lurik Dibyo. Lurik Dibyo merupakan salah satu dari dua rumah produksi kerajinan lurik yang berdiri sejak beberapa tahun yang lalu.

Kerajinan lurik yang terletak di daerah Krapyak Wetan, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta ini sudah berhasil memasarkan berbagai motif kain lurik yang terbilang sukses di pasar dunia. Dulunya Mas Jussy telah bekerja kurang lebih delapan tahun lamanya di salah satu rumah produksi yang juga terkenal di daerahnya. Namun, beberapa tahun berikutnya, Mas Jussy memutuskan untuk keluar dari zona nyaman dan memilih untuk mengelola lurik Dibyo dengan rumah produksi sendiri.

Sejauh ini, lurik Dibyo memiliki alat terbatas, namun bukan berarti hal ini membuat sang pemilik tak memiliki cara lain untuk menjaga sekaligus melestarikan kerajinan yang turun temurun didirikan oleh keluarganya.

Melalui beberapa relasi yang dikenalnya, Mas Jussy membangun sebuah kerjasama dengan pengrajin-pengrajin lurik di luar kota, seperti di Klaten misalnya. Melalui kerjasama ini, lurik Dibyo mampu menghasilkan kain lurik setiap bulannya yang siap dipasarkan.

Lurik ini sendiri dibuat dengan sentuhan khas oleh sang pembuat maksimal satu bulan lamanya untuk satu jenis motif, tentu ada filosofinya. Bicara mengenai filosofi, hanya lurik yang dibuat dengan menggunakan alat tenun bukan mesin atau sering disebut ATBM, yang memiliki makna atau doa yang dipanjatkan oleh sang pembuat lurik itu sendiri. Berasal dari kata β€œrik” yang berarti pagar, berupa doa harapan dari para pengrajin agar dapat menjadi pelindung bagi pemakainya.

Tentu mempertahankan kekhasannya dan menjaga warisan budaya bukan perkara mudah, semata-mata hal ini dilakukan agar warisan budaya nenek moyang terdahulu tetap ada dan tentunya akan mendorong pula sektor perekonomian pedesaan itu sendiri. Sederhana sekali bukan?

Motif lurik ini ada bermacam-macam dan setiap motifnya memiliki makna masing-masing, seperti,

  • Telupat, merupakan motif yang digunakan abdi dalem Kraton Yogyakarta. Berupa garis telu (tiga) dan papat (empat), adalah bilangan penjumlahan angka tujuh. Dipilihnya angka tiga dan empat karena keduanya tidak ada jarak. Tiga adalah simbol rakyat, empat adalah simbol raja. Filosofi tentang kedekatan Raja dengan rakyatnya.
  • Sodo Saler, Sodo adalah lidi, saler adalah satu helai. Akan kurang bernilai dan lemah ketika hanya satu. Namun, akan berubah menjadi kekuatan ketika dipadukan berkumpul menjadi satu kesatuan. Adalah lurik simbol persatuan dan kebersamaan.
  • Udan Liris, Dahulu merupakan kain yang dikenakan Raja. Udan Liris adalah hujan gerimis, simbol kesuburan merupakan doa pengharapan dari para pengrajin, agar Raja yang berkuasa mamou mengemban amanah dan memberikan kemakmuran bagi rakyatnya.

Nah, penjelasan di atas merupakan penjelasan menyeluruh tentang lurik Dibyo ini sendiri oleh sang pemilik. Konon, filosofi ini digunakan sebagai acuan dalam pembuatan lurik dalam setiap harinya. Sayangnya, sewaktu saya berkunjung, saya tidak sempat melihat proses pembuatannya. Mungkin, hal ini bisa dijadikan alasan saya untuk kembali ke sana. πŸ˜€

Selain itu, ada beberapa cara merawat kain lurik yang mana belum pernah diketahui orang sebelumnya. Tentu cara ini sangatlah berbeda dengan kain-kain lain pada umumnya. Ialah,

  1. Rendam kain lurik dalam air sebelum dijahit.
  2. Hindari mencuci kain lurik dengan detergen yang keras.
  3. Jemur di tempat yang teduh.
  4. Hindari gesekan dengan setrika secara langsung.
  5. Simpanlah kain lurik dalam lemari yang tidak lembab.

By the way, berkunjung ke sana tanpa membeli salah satu karya tangan dunia adalah pantang dilakukan. Dan memilih beberapa motif yang saya sukai adalah hal yang paling mengasyikkan daripada harus belajar menggunakan alat tenun tanpa mesin. πŸ˜€

Jadi, mencintai produk Indonesia itu perlu. Jika bukan kita, lantas siapa lagi? πŸ˜€

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan