Berwisata ke Gua Jatijajar Sembari Mencicipi Pecel Bunga Kecombrang

Kali pertama saya mengunjungi Gua Jatijajar waktu itu saya masih duduk di bangku sekolah. Gua yang terletak di kabupaten Kebumen, Jawa Tengah ini sebenarnya merupakan salah satu destinasi andalan di daerah Jawa Tengah. Selain tujuan utama pergi ke Kroya adalah kondangan, tentu saya tak ingin melewatkan untuk menjelajah daerah ini. Mumpung ada kesempatan kan?

Tak jauh dari tempat kondangan salah satu teman saya, Gua Jatijajar bisa ditempuh kurang lebih 30 menit, dan searah dengan rombongan saya kembali pulang.

Gapura selamat datang menyambut kedatangan kami, rasanya tempat ini sudah mengalami perubahan yang signifikan, maklum, waktu itu saya datang ke sini sewaktu masih SD, waktu saya dan keluarga saya masih sering jalan-jalan.

Untuk bisa menjelajahi tempat wisata ini, saya hanya dikenakan biaya Rp7.500 saja, cukup murah bukan? Panas terik yang saya rasakan di luar area membuat saya ingin segera masuk ke dalam gua. Tentu diselimuti rasa penasaran.

Ada beberapa area yang tak berubah, suasana sejuk begitu terasa ketika saya masuk ke dalam gua. Saat ini, Gua Jatijajar dirawat dan dikelola dengan baik oleh Pemerintah Daerah setempat. Untuk menciptakan kenyamanan bagi para pengunjung, Pemerintah menambahkan beberapa fasilitas, seperti, pemasangan lampu listrik sebagai penerangan, trap-trap beton untuk memberikan kemudahan bagi para wisatawan yang masuk ke dalam Gua Jatijajar serta pemasangan patung-patung atau deorama.

Patung-patung yang ada merupakan sejarah pagi Gua Jatijajar ini sendiri, konon cerita di dalamnya mengisahkan Raden Kamandaka yang sedang bertapa, dan legenda tersebut saat ini lebih dikenal dengan cerita Lutung Kasarung, sayang cerita lebih detailnya tidak terpapar di sana, dan tidak terdapat pula pengelola atau guide yang bisa membantu menerangkan maksud cerita yang ada di Gua Jatijajar ini sendiri.

O

Jika kamu menjelajah Gua Jatijajar, kamu akan melewati beberapa anak tangga yang berwarna-warni, sendang dan juga aliran sungai yang tidak pernah habis meskipun sedang musim kemarau. Uniknya dari aliran sungai menuju gua, saya mendapati beberapa anak-anak yang sedang melantunkan sebuah lagu dan iringan musik hanya dengan menggunakan air yang mengalir dari gua. 😀

Di dalam gua terdapat empat sendang yang, ialah Sendang Mawar, Sendang Kantil, Sendang Jombor dan Sendang Puser Bumi. Namun, sewaktu saya ke sana, saya hanya melihat Sendang Mawar dan Sendang Kantil, untuk dua sedang lainnya telah dikeramatkan. Jika kamu menjelajah gua ini, sempatkan untuk membasuh muka di Sendang Mawar atau Sendang Kantil ya, konon, kepercayaan tersebut bisa membuat kamu awet muda dan mengabulkan harapanmu. 😀

Mengekplorasi Gua Jatijajar tentu begitu menguras tenaga karena jalurnya yang menaiki tangga. Namun, tak perlu khawatir, di jalur pintu keluar kamu akan mendapati jajaran pedagang yang menjajakan aneka makanan dan minuman. Saya memilih untuk mencicipi makanan unik, yang mana baru kali pertama saya temukan. Pecel Bunga Kecombrang namanya, di daerah tenpat saya tinggal, pecel memang sudah umum dan banyak ditemukan di manapun, namun untuk pecel bunga kecombrang, saya baru menemuinya di sini.

Kecombrang adalah jenis tumbuhan rempah bernama latin Etlingera elatior. Batangnya berdaging berwarna hijau dengan daun yang lebar sepintas mirip dengan lengkuas atau jahe karena ketiganya masih tergolong satu familia. Karakter yang mencolok dari Kecombrang adalah bunganya yang besar dengan kelopak berwarna merah atau merah muda. Bunganya mengeluarkan aroma menyengat yang khas layaknya rempah.

Mencicipi pecel bunga kecombrang untuk kali pertama memang membuat saya ketagihan. Rasanya segar dan memang khas banget. Sampai-sampai saya menghabiskan dua porsi pecelnya. Pecel bunga kecombrang tak hanya bisa ditemukan di Gua Jatijajar saja, Pecel bunga kecombrang juga bisa ditemukan di daerah Purwokerto atau Cilacap, karena daerahnya bertetanggaan, pecel ini sudah menyebar luas di kawasan ini.

Jangan pernah mengatakan bahwa suatu tempat itu tidak ada apa-apanya jika kamu belum pernah mengunjunginya. Karena setiap daerah pasti memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri yang bisa diekplorasi. Jadi, sudah pernahkah kamu ke Gua Jatijajar? 😀

Artikel terkait

4 Komentar

  1. Saya ke Gua Jatijajar juga waktu masih piyik, bahkan sampai sudah lupa rupa guanya seperti apa. Sekarang sudah makin moncer ya dalamnya. Ini nih yang namanya caving with style ahahaha, masuk gua tapi masih bisa cantik 😉

Tinggalkan Balasan