Satu Hari Celingak-Celinguk di Kota Surabaya

House of Sampoerna

Hari ini, tepat saya berada di Terminal Purabaya. Semua orang yang berada di sini sudah mulai sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, pun dengan saya. Ada yang teriak-teriak mencari penumpang, ada yang menjajakan makanan, ada yang sedang ngopi, ada yang sedang kelelahan dan saya sedang menikmati segelas teh panas sembari mengeluarkan angin semalam, memang dasarnya tinggal di dusun, kebanyakan AC mah, overdosis yang ada!

Seketika terdampar di Surabaya untuk satu hari ke depan, entah mau ke mana, kabarnya rekan saya yang akan mengantarkan saya keliling Surabaya bisa menjemput kami pukul 13.00 nanti. Yang pasti saya ingin menikmati lezatnya bebek Sinjay yang terkenal itu. Untung saja saya sepaket dengan suami, ya nggak krik-krik amat lah ya. Nah, lantas apa yang bisa saya lakukan selama enam jam ke depan?

Setelah mencari informasi dan bertanya kanan kiri, beberapa kawan menyarankan saya untuk pergi ke House Of Sampoerna.Β Tapi, sebelum jalan kaki kurang lebih 10 menit, ada baiknya sarapan dulu, biar kuat menghadapi kenyataan! πŸ˜€

Jika dari Terminal Purabaya, saya perlu naik bus kota jurusan JMP (Jembatan Merah Plaza). Jurusan ini adalah jalur paling dekat dengan House of Sampoerna, dan siapa sangka, ketika saya turun dari bus kota, dihadapan saya terdapat depot lontong balap yang begitu menggoda.Β Lontong Balap adalah salah satu kudapan khas Surabaya yang begitu menarik perhatian saya soalnya belum pernah makan dan langka di Jogja. Tanpa pikir panjang, langsung saja sikat! πŸ˜€

Lontong Balap
Lontong Balap

Perut kenyang, hati pun ikut senang. Jika diharuskan berjalan kurang lebih 10 menit, masih kuatlah saya. πŸ˜€ Jujur saja, Surabaya bukanlah salah satu dari sekian destinasi yang ingin saya kunjungi. Cuaca panas yang melebihi batas derajat manusia di bumi membuat saya tak betah jika harus berlama-lamaan di sana. Tapi membelah Surabaya selama satu hari, apapun bisa diperjuangkan seperti cinta kita, Bang! πŸ˜›

House Of Sampoerna merupakan salah satu tempat bersejarah kolonial Belanda, dulunya merupakan panti asuhan yang dikelola pemerintah setempat, namun setelah itu bangunan tersebut dibeli oleh Liem Seeng Te yang dijadikan tempat produksi pertama rokok Sampoerna.

Tiba di depan pintu gerbangnya, saya bertanya dengan salah satu penjaga. Kemudian ditunjukkanlah pintu utama House of Sampoerna. Di depan bangunan utama bertengger empat pilar besar dengan mewahnya. Waktu itu sudah ada petugas yang ramahnya nggak ketulungan menyambut saya. Aroma tembakau yang khasΒ kayak tahu bedanya aroma tembakau sajaΒ menambah rasa penasaran saya. Dikarenakan waktu berkunjung adalah weekday, House of Sampoerna tidak terlalu ramai waktu itu, hanya terdapat beberapa orang yang berkunjung.

House of Sampoerna
House of Sampoerna

Di museum ini sendiri terdapat tiga bangunan utama, bangunan terbesar tersebut ialah museum ini sendiri dan pabrik pembuatan rokok Sampoerna. Sebelah kanan bangunan utama merupakan rumah tinggal keluarga besar Sampoerna. Dan sebelah kirinya merupakan cafe dan galeri lukisan. House of Sampoerna terdiri dari dua lantai, lantai dasar merupakan inti dari museum tersebut yang terbagi menjadi tiga ruangan. Ruangan pertama merupakan cikal bakal bagaimana keluarga Sampoerna mulai merintis pada masanya. Terdapat berbagai replika warung kelontong, beberapa foto silsilah keluarga dan berbagai macam jenis tembakau berikut oven pengering tembakau jaman dulu.

Ruangan kedua merupakan ruang galeri dari masa ke masa orang yang berperan penting dalam House of Sampoerna. Dan ruangan ketiga merupakan ruangan terunik bagi saya. Di sana terdapat berbagai jenis rokok keluaran pertama sampai saat ini, ada beberapa alat tradisional yang dulunya digunakan dalam pembuatan rokok, korek api dari masa ke masa, terdapat pula beberapa transportasi yang dulu digunakan oleh pemilik Sampoerna. Ruangan ini memiliki berbagai koleksi alat unik yang belum pernah saya lihat sebelumnya, tentu alat-alat tersebut begitu berguna bagi Sampoerna pada jaman dulunya.

Kemudian melangkah ke lantai dua, ruangan ini merupakan galeri suvenir House of Sampoerna. Terdapat berbagai macam merchandise khas Sampoerna yang dibuatnya. Seperti, kaos, kain batik, pernak-pernik, dan masih banyak lagi lainnya. Uniknya lagi, dari lantai dua ini, saya bisa melihat langsung bagaimana pekerja pabrik sedang berkarya membuat rokok Sampoerna. Semuanya tanpa menggunakan alat modern loh, mereka menggunakan cara manual, ialah dengan tangan mereka sendiri. Dengan telatennya mereka menciptakan sebuah rokok yang siap dijajakan ke pasar dunia. Sayangnya nggak diperbolehkan memotret. πŸ˜‚

Souvenir Shop
Souvenir Shop

Satu lagi yang tak mungkin bisa saya tinggalkan, ialah Surabaya Heritage Track. Merupakan salah satu fasilitas yang ditawarkan oleh House of Sampoerna bagi pengunjung yang ingin berkeliling kota Surabaya secara GRATIS, seperti saya. Jadwalnya pun terbagi menjadi tiga waktu dalam sehari. Tentu sayang banget kan jika dilewatkan. πŸ˜€

Resiko one day trip memang lelah di jalan. Tak bisa dipungkiri, meskipun saya sudah tidur semalaman di bus ternyaman jurusan Jogja – Surabaya, namun badan tak cukup hanya dengan tidur sejenak, dia pun perlu rebahan. Β Dan akhirnya saya memutuskan untuk ngungsi sejenak di salah satu rumah kawan saya, sembari menunggu sore tiba. Memang pilihan sulit, jika saya memilih untuk istirahat sejenak, resiko untuk menikmati Bebek Sinjay bakalan berantakan karena jika nekat ke Madura pasti bakalan kehabisan! Ah sudahlah, Bebek Sinjay tak ke mana! πŸ˜›

Sorenya, saya memilih untuk menikmati Bebek Sinjay di cabang Surabaya. Tenang, Bebek Sinjay sudah buka cabang kok. Tak kalah populernya sama yang di Madura kok (saya mencoba menghibur diri). Dan untuk pertama kali mencicipnya, rasanya memang beda dengan bebek-bebek lainnya. Olahan rempah yang khas dan meresap sampai tulang-tulangnya membuat saya percaya ini bebek istimewa! Alay! Mungkin ini yang akan orang lain rasakan ketika pertama kali mencicipnya, seperti saya, NDESO! πŸ˜‚

Bebek Sinjay
Bebek Sinjay

Perut kenyang, jangan langsung pulang. Hari masih panjang! Padahal tinggal lima jam doang. πŸ˜€Β Keluar dari kedai Bebek Sinjay, saya lanjut ke KenPark. Kenpark merupakan akronim dari Kenjeran Park. Kenjeran Park merupakan sebuah kawasan wisata terpadu yang memiliki berbagai jenis wahana wisata, seperti waterpark, arena berkuda, arena balap gokart, pujasera, Patung Buddha Catur Muka dan sekaligus rumah ibadah Klentheng Sanggar Agung. Sayangnya saya terlalu sore untuk menikmati suasana tempat ini. Hanya satu tempat yang bisa saya kunjungi, ialah Klentheng Sanggar Agung yang populer saat ini.

Hari mulai gelap, destinasi terakhir tapi bukan akhir adalah menikmati suasana malam di pinggiran Jembatan Suramadu. Sembari menikmati secangkir susu, melihat gemerlap lampu sepanjang Jembatan Suramadu melebur lelah setelah aktivitas seharian. Romantis sekali bukan, apalagi duduknya bareng gebetan, yang jomblo jangan pada iri ya! πŸ˜›

Jembatan Suramadu
Jembatan Suramadu

Anyway, perjalanan ini merupakan salah satu dari sekian perjalanan saya dalam satu hari. Jangan terlalu nekat jika tidak memiliki fisik yang tak cukup kuat. Karena menghadapi hidup saja sudah berat apalagi nekat jalan seharian doang, mana kuat! πŸ˜›

Artikel terkait

4 Komentar

  1. Asiknya di Surabaya masih banyak destinasi gratisan dan transport publik juga gampang. Tapi beneran deh panasnya itu gak ketulungan.
    Eh gak foto foto di mural2 menuju HoS?

Tinggalkan Balasan