Bali, Hidup dan Dijadikan Destinasi Idaman Hati

“Siapa dari kalian yang belum pernah pergi ke Bali?”

Pertanyaan itu saya lontarkan ke sebuah forum diskusi di tempat saya bekerja. Barangkali ada yang sama sekali belum ke sana. Dan saya tidak menyangka bahwa masih ada beberapa orang yang belum pernah menginjakkan kaki ke Bali sebelumnya.

Beruntungnya kini, banyak kampus-kampus pariwisata di Jogja yang selalu mengadakan study tour ke luar kota seperti Bandung, Bali, atau Surabaya. Dan Bali menjadi salah satu favorit dari pilihan-pilihan lainnya. Setidaknya dapat memberi kesempatan bagi anak hotelier seperti saya, sekali dalam seumur hidupnya bisa ke sana

Bagi saya, Bali adalah salah satu pulau impian. Meskipun merupakan pulau kecil, saya menemui banyak keberagaman di sana. Destinasinya pun beragam, selain pantainya yang eksotis. Banyak gunung, danau, air terjun, bahkan wisata religi. Dan lagi, meskipun saya sudah berkali-kali ke sana, jujur belum banyak destinasi yang saya kunjungi. Yang tak pernah terlewatkan ialah Pantai Kuta, Legian, Nusa Dua atau Ubud lah yang jauh. Siapa sangka, selain destinasi tersebut masih banyak hidden paradise yang belum banyak di ketahui wisatawan, seperti saya.

Mungkin saya masih terlalu takut untuk mengekplorasi Bali semakin dalam. Pulau yang magis menurut saya, perlu hati-hati dan harus beretika, kalau di Jogja, sering disebutnya harus memiliki unggah-ungguh. Meskipun saya terkadang begitu penasaran dengan apa yang dipanjatkan warga Bali ketika berdoa.

Beberapa tahun lalu, saya pernah hampir satu bulan tinggal di Bali, hidup seperti anak kost dan pas-pasan tanpa pekerjaan. Beruntung sekali saya memiliki teman senasib di sana. Bersebelahan dengan beberapa teman membuat saya seperti memiliki keluarga. Ada tiga orang teman di antaranya ialah dua cowok bernama Lucky dan Dhani, dan satu cewek bernama Arien. Setiap pagi, kami sarapan nasi ala kadarnya, sesekali kami masak mie instan saking kere nya. Yang paling asyik, kami selalu ritual untuk menikmati secangkir teh atau cokelat setiap pagi. Dan sorenya kami selalu pergi ke Pantai Padang-padang untuk berendam di bibir lautnya. Sesederhana itu dan penuh kehangatan bak keluarga bahagia.

Selain pengalaman itu, saya juga pernah bolak-balik ke Bali hampir setiap satu bulan sekali. Sewaktu itu saya sudah kembali ke Jogja karena mendapat panggilan kerja di sebuah hotel berbintang lima. Lantaran pacar saya dulu ditugaskan di Bali dengan terpaksa kami harus menjalin hubungan jarak jauh. Dia adalah orang kaya, tapi memiliki kepedulian tinggi terhadap wanita. Selama perjalanan biaya selama harus bolak-balik Jogja – Bali ditanggung olehnya. Ah, surga. 😀

Sunset di Pantai Kuta
Sunset di Pantai Kuta

Dengan sedikit memanfaatkan situasi dan hasrat traveling saya waktu itu, saya bisa mengekplorasi pulau Bali secara mewah bersamanya. Ya, lebih baiklah dibandingkan sebelumnya ketika saya hidup ala kadarnya. Dia orang baik, sayangnya dia seorang posesif luar biasa. Membuat saya harus melepasnya karena tak tahan dikekang olehnya.

Setelah berpisah saya pun kembali menghidupi diri sendiri untuk bertahan hidup. Yang awalnya semua serba mudah, kali ini saya hidup dengan jerih payah sendiri. Roda memang berputar, kadang senang, kadang susah. Tinggal dinikmati saja.

Hidup menyendiri dan traveling bersama teman-teman di Jogja membuat saya kesepian. Kesepian bukan karena tak punya teman, melainkan saya butuh seseorang yang bisa diajak berbagi. Saya bukan tipikal orang yang mudah terbuka terhadap sesuatu yang terjadi terhadap diri saya dengan orang lain. Saat itu, saya memiliki dua partner traveling yang setia menemani setiap perjalanan saya. Sayangnya mereka sudah berstatus memiliki pacar, tak begitu nyaman pula mengumbar masalah pribadi dengan mereka. Meskipun saya juga mengenal pasangan mereka masing-masing sih, rasanya aneh saja saya merengek minta ditemani mereka hanya untuk sekadar memenuhi hasrat traveling saya.

Sampai pada akhirnya salah satu dari mereka telah menikah, satunya lagi disibukkan oleh bisnis barunya. Dan saya harus sadar diri untuk tak dijadikan prioritas lagi. Sudah tak ada lagi makan duren dua gelundung yang habis dimakan berdua, atau makan di warung dengan memesan bermacam-macam menu habis dimakan oleh kami berdua, atau sudah tak ada lagi mendaki gunung bertiga hanya untuk befoto ala ala princess agar saya terlihat feminin. Ah, semua itu masih saya simpan rapi di dalam memori saya.

Tak lama kemudian, hadir sesosok lelaki yang menggantikan kedua partner traveling saya sebelumnya. Entah, saya begitu nyaman bepergian dengan teman lawan jenis. Bukan soal modus atau kesengajaan sih, melainkan dengan partner yang berlawanan jenis saya merasa aman dan dilindungi. Yang biasanya memanjakan jika sedang traveling sesama wanita, saya akan lebih dimanja jika bepergian dengan seorang lelaki. 😀

Semakin seringnya saya traveling dengannya, sudah semakin banyak destinasi yang saya kunjungi bersamanya. Tak adil saja jika saya tak segera dinikahinya. Orang tua mana yang rela jika anak perempuan satu-satunya tak kunjung dinikahi sedangkan sudah diajak melalang buana kemana-mana. 😀

Tepat satu tahun lalu, saya menikah dengannya. Tak pernah disangka saja kami menikah. Sedangkan kedua partner traveling saya sebelumnya sempat tak menyetujuinya karena saya hanya akan dijadikan pelarian saja. Saya sih, senyum saja, toh jika memang serius dia akan menemui kedua orangtua saya.

Sibuknya rutinitas yang sudah ada, membuat saya dan suami tak sempat untuk merasakan honeymoon yang umumnya dilakukan oleh kebanyakan pengantin baru, meskipun nggak semua pengantin baru juga sih. Cuti yang mepet dan deadline kantor yang sudah menunggu membuat saya harus segera kembali bekerja. Namun, sebagai seorang penggila traveling, saya tak kehilangan akal dong untuk mendapatkan hak jalan-jalan saya. Saya juga butuh honeymoon! 😂

Beruntung kini zaman sudah maju seiring bertambahnya kaum millenial yang haus akan teknologi canggih. Dan semakin banyak orang traveling, teknologi pun akan semakin berkembang mengikutinya.

Hal ini sangat berguna untuk saya yang saat ini sedang membutuhkan referensi tiket pesawat dan hotel murah. Banyaknya aplikasi yang bisa digunakan sebagai referensi membeli tiket pesawat dan hotel, saya sudah lama jatuh hati dengan aplikasi Traveloka.

Lagi-lagi Bali menjadi pilihan saya untuk berlibur dengan suami saya. Melalui aplikasi traveloka saat ini sudah ada fitur hemat, ialah tiket pesawat dan hotel yang bisa dipesan secara bersamaan. Meskipun sebenarnya bisa memesan satu per satu sih, tapi jika booking keduanya sekaligus akan lebih hemat. Harganya pun terpaut jauh lebih murah dibandingkan memesan satu per satu.

Dengan cukup mengisi form yang tersedia sesuai dengan destinasi dan tanggal keberangkatan, secara otomatis aplikasi ini akan memberikan berbagai penawaran harga hotel dan tiket pesawat dengan harga yang harus dibayarkan tanpa tambahan apapun. Tentu dengan berbagai pilihan waktu yang bisa disesuaikan dengan jadwal saya.

Selain itu untuk pembayarannya pun sangat mudah, udah nggak zaman diharuskan menggunakan kartu kredit, dengan aplikasi traveloka saya cukup membayar tagihan tersebut dengan menggunakan internet banking dan tak perlu jauh-jauh ke ATM centre dong. Tak lama kemudian e-ticket sudah issued dan dikirim melalui email saya.

Karena tujuan traveling kali ini adalah honeymoon, jadi sesekali bolehlah ya sedikit mewah, naiknya pesawat dan menginapnya pun di hotel.  Dan nggak perlu khawatir lagi bakalan ribet atau kebingungan mau tinggal di mana. Dengan Traveloka, booking tenang, travelingnya senang.

Artikel terkait

5 Komentar

  1. Oalaaaaah jadi karena itu kamu udah hapal banget Bali toh.
    Aku buta Bali, terakhir nggembel ke sana 2009 dan udah gak inget. Wkwkwkw.
    Kapan kapan pengen Bali Utara kalo selo waktu, cuti, dan duitnya. Doakan yak

Tinggalkan Balasan