Angkringan Pocinangun, Pelepas Rindu Akan Kota Jogja

Angkringan Pocinangun

Apa yang membuatmu rindu akan kota Jogja? Kenangan? Mantan? Atau angkringan? Pertama kali saya menginjakkan kota Jogja, hal yang selalu membuat saya penasaran ialah angkringannya. Gerobak sederhana dengan panasnya bara api yang membara membuat jajanan kaki lima ini begitu dirindukan banyak pelancong, terutama yang berada di luar kota.

Meskipun hanya menjajakan makanan sederhana seperti, nasi kucing, sate usus, sate telur, gorengan, ceker dan kepala ayam lengkap dengan aneka minuman khasnya, wedang jahe, angkringan Jogja cukup digemari karena harganya yang murah. Nasi kucing di sini, bukan nasi dengan lauk kucing loh ya. Dinamakan nasi kucing karena porsinya sangat kecil, sebesar kepalan tangan. Bagi kamu yang diharuskan makan banyak, satu bungkus tak akan cukup untuk sekadar mengobati rasa laparmu, kamu harus mengambil paling tidak dua atau tiga bungkus untuk kenyang!

Nah, bicara mengenai angkringan, warung kaki lima yang sudah terkenal di kawasan Jogja ini sudah terbilang banyak dan cukup tenar. Pantas jika saja kamu akan dengan mudah menemukannya. Banyak angkringan mulai menjamur di setiap sudut kota Jogja, tapi untuk soal rasa saya memilih Angkringan Pocinangun. Mengapa?

Angkringan Pocinangun atau seringnya disebut Pocinangun ini terletak di Jalan Rejowinangun No.314, Rejowinangun, Kotagede, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55171. Meskipun berada cukup jauh dari pusat kota, Pocinangun sudah cukup dikenal banyak orang. Bagaimana tidak, pemiliknya saja atau Mas Hendra saya memanggilnya, merupakan salah satu penggiat komunitas backpacker dan motor lawas yang cukup terkenal di Jogja. Selain menggeluti komunitas yang saya sebutkan di atas, bapak dengan satu anak ini juga pernah satu bangku kelas dengan saya di enterpreneurship community. Pantas saja ramai, banyak dari berbagai kalangan selalu mampir ke sana sih!

Untuk menunya sendiri sangat variatif dan berbeda dengan angkringan-angkringan pada umumnya. Pocinangun menjenama dirinya sebagai angkringan yang istimewa. Dengan menyajikan berbagai olahan khasnya sebuah angkringan, tak jarang pula Pocinangun menyajikan kuliner unik seperti sayur lombok ijo yang disajikan dalam gerabah, tentu makanan yang satu ini akan sulit kamu temukan di angkringan mana saja. Selain itu, jika pada umumnya sate usus atau tempe dihangatkan di atas bara tanpa embel-embel bumbu, lain cerita di Pocinangun, Mas Hendra tidak akan segan membantu membakarkan sate dan tempenya dengan bumbu khasnya Pocinangun. Semacam dilumuri bumbu rempah-rempah yang manis gitu kemudian di bakar dalam bara, pokoknya enak! 😀 Wedang jahe atau jahe susunya juga enak, jahe yang digepuk dan dibakar menambah hangatnya suasana kala itu, apalagi ditemani dengan gebetan atau calon pacar misalnya. Ah, syahdu! 😛

By the way, Pocinangun merupakan angkringan ternyaman yang bisa saya temukan saat ini . Dibandingkan angkringan-angkringan lainnya yang sudah mulai ramai akan pengamen, di Pocinangun kamu tidak akan diganggu rusuhnya pengamen. Tempatnya asik, dan cocok untuk sekadar hangout bersama kawan lama. Jika kamu bosan mantengin linimasa (timeline) di social media, nggak usah khawatir. Di Pocinangun ada karambol, papan catur, kartu uno, monopoli dan tak lupa lengkap dengan wifi. Biasanya wifi doang sih yang banyak dicari, selain jodoh dan colokan! Kapan nyari wife nya cobak! 😛

Jadi angkringan mana yang menurut kamu favorit? Jika kamu bertanya sebaliknya dengan saya, saya akan menjawab Pocinangun idola saya. 🙂

Artikel terkait

6 Komentar

  1. Angkringan Felix di UNY. Favorit karena pertama kali makan angkringan ya disitu dan selalu jadi tempat ngumpul ma kawan-kawan sampai sekarang. Alasan favorit lebih ke kenangannya sih bukan rasanya 😀

Tinggalkan Balasan