Kopi Nusantara Bersama Kopi Kapal Api

Kopi Kapal Api

Kopi Indonesia memang dikenal dengan citarasa yang menggugah selera. Tahun 2011 lalu, Indonesia mendapati peringkat ketiga setelah Brazil dan Vietnam sebagai penghasil kopi terbesar dunia. Bagaimana tidak, Indonesia memiliki varietas kopi yang begitu eksotis nan kaya. Pantas jika Indonesia mendapat julukan tersebut. Belum lagi, Indonesia dikenal sebagai penghasil kopi luwak terbaik di dunia. Nikmatnya memang tak tergantikan oleh kopi mana saja.

Hampir setiap daerah yang tersebar di Indonesia memiliki keunggulan dan keunikan akan rasa kopinya. Saya sebagai penikmat kopi amatir, tentu tak begitu paham akan keberagaman kopi nusantara.

Yang saya tahu, ketika saya mengunjungi sebuah kedai kopi yang menebar aroma sedap nan menggoda, itu pasti saya suka. Meskipun, tak jarang pula saya penasaran dengan jenis-jenis kopi Indonesia sih. Konon, ketika mencicipi kopi khas Indonesia, saya akan merasakan sensasi yang berbeda.

Di Jogja khususnya, sudah banyak kedai-kedai kopi yang berdiri, mungkin satu kilometer ada kali kedai-kedai ini saking banyaknya. Banyaknya kedai yang menjamur dimana-mana, tak jarang pula kedai kopi ini berlomba-lomba memberikan kopi terbaiknya bagi para pengunjungnya. Mulai dari kopi hitam, kopi tubruk, cappucino, latte, coldbrew, single origin, manual brew, sampai jenis kopi yang diciptakan dengan campuran yang bermacam-macam. Setahu saya sih, frappucino, begitulah saya menyebutnya, jika kamu menyebutnya apa?

Cappucino
Cappucino

Saat ini, teknologi sudah semakin maju, pasar dunia perkopian pun semakin ketat persaingannya. Tapi yang paling menyedihkan ialah sudah jarang pula kedai kopi yang mengolah kopinya dengan cara manual. Saya pernah melihat cara pengolahan kopi secara tradisional waktu itu, mulai dari memetik biji kopi, memilih biji kopi, fermentasi atau direndam dalam air, pengeringan, kemudian disangrai, dan terakhir digiling. Kurang lebih begitulah ya. 😀

Saya hanya tahu bahwa di Jogja saat ini tengah membudidayakan Kopi Merapi yang diolah menjadi kopi andalan khas Jogja. Saya juga pernah mendengar kopi di pegunungan Menoreh, Kulonprogo, namun saya tak begitu tahu banyak tentang kopi yang dibudidayakan di sana. Barangkali ada yang bisa bercerita? 😀

Nah, meskipun saat ini sudah banyak kedai kopi yang berdiri di Jogja, namun tak jarang pula saya mempertimbangkan beberapa hal sebelum saya memutuskan untuk mengunjunginya, seperti, kenyamanan tempatnya, free wifi atau tidak karena bagian ini sangat penting, biar bisa story-an Sis :D, apa yang menarik dari kedai tersebut, sampai yang terpenting lagi ialah mengenai harga.

Setelah melalangbuana ke berbagai kedai kopi yang ada di Jogja, sebagian besar kedai ini mematok harga kisaran Rp20.000 – Rp30.000 untuk per cup atau gelasnya. Bagi saya yang seorang karyawan dengan gaji pas-pasan sih, bisa ngopi tak bisa makan. Duh! 😛

Nah, beruntung saya memiliki stok kopi Kapal Api. Berawal dari banyaknya biaya yang harus dikeluarkan ketika harus ke kedai kopi, saya memilih untuk menyeduh kopi pilihan saya saja. Takaran dan komposisi gula yang pas membuat kopi ini pun tak kalah dengan kopi yang dibuat oleh barista-barista di luar sana.

Kopi Kapal Api
Kopi Kapal Api

Kapal Api Jelas Lebih Enak

Saya juga mempercayakan Kapal Api sebagai teman perjalanan saya ke mana pun saya bepergian. Bagi saya kopi adalah mood booster, namun, tak lucu saja ketika saya merengek minta kopi pada suami sedangkan dia tak menyukai kopi! Makanya saya selalu siap sedia Kopi Kapal Api dalam ransel. Menyeduh kopi kapal api di sebuah hutan atau taman kota, jelas lebih enak. Percayalah bahwa secangkir kopi mampu menghilangkan stres dan kelelahan dalam perjalanan. Ini tentang #KapalApiPunyaCerita perjalanan tentang saya, kalau kamu?

By the way, tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition yang diadakan oleh #KapalApiPunyaCerita, selengkapnya ada di sini ya!

 

Artikel terkait

12 Komentar

Tinggalkan Balasan