Pantai Teluk Hijau (Green Bay), Pantai Hijau Yang Membiru

Teluk Hijau (Green Bay)

“Pernahkah kamu mengunjungi surga tersembunyi bernama Teluk Hijau atau Green Bay?”

By the way, Teluk Hijau saat ini merupakan destinasi wisata yang sedang gencar-gencarnya dijadikan destinasi primadona para traveler loh. Sampai saat ini saya masih belum percaya jika akan secepat ini bisa mengeksplorasi salah satu destinasi wisata andalan di Kota Banyuwangi.

Dengan bakat get lost atau populernya sering disebut sok tahunya saya, itinerary yang telah saya buat dengan berbagai destinasi di Banyuwangi jauh-jauh hari sebelum saya tiba di sana, harapannya akan berjalan sesuai dengan rencana dan lancar dikunjungi dalam waktu sehari, destinasi tersebut ialah Pantai Teluk Hijau, Taman Nasional Baluran, dan Kawah Ijen. Sialnya, saya baru sadar bahwa destinasi tersebut berada di dua lokasi yang berjauhan dan tidak memungkinkan jika dijangkau dalam waktu sehari. ?

Dengan berbekal google maps, pagi itu saya bersama Yugo berangkat ke Teluk Hijau (Green Bay) dengan sepeda motor yang saya rental di salah satu rekanan saya, Mas Rachmad. Katanya, untuk menjangkau Teluk Hijau saya membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam sekali perjalanan, ah bakal melelahkan ditambah dengan kondisi saya yang kurang fit sisa lelah kemarin, pikir saya.

Dua jam pertama merupakan setengah jalan dari waktu yang akan kami tempuh hari ini. Awalnya, saya memasuki gerbang PT Perkebunan Nusantara dengan jalan beraspal mulus. Namun, ketika sampai di gerbang Taman Nasional Meru Betiri dan membayar retribusi, jalan mulai berlubang di mana-mana, ditambah lagi gerimis hari itu dan sisa hujan kemarin. Becek cyint! 😛

Sebelum melewati gerbang Taman Nasional Meru Betiri, sepanjang perjalanan saya melihat banyak pemandangan yang begitu menyedapkan mata. Mulai dari persawahan hijau sampai pantai berpasir hitam sangat menghibur perjalanan saya. Meskipun awalnya saya mengira bahwa ini adalah Teluk Hijau sih. Bagaimana bisa menyanggahnya dari kejauhan air lautnya pun berwarna hijau. 😀

Pantai Pancer.

Saya sempat beristirahat sejenak di pos retribusi Taman Nasional Meru Betiri sembari ngobrol dengan bapak-bapak penjaganya. Saya lupa menanyakan siapa namanya, tapi bapaknya ramah sekali. Terkadang kami bercanda dengan banyolan-banyolan tak masuk akal yang membunuh pelan rasa lelah saya waktu itu.

Pintu Masuk Taman Nasional Meru Betiri
Pintu Masuk Taman Nasional Meru Betiri

Tak lama kemudian saya melanjutkan perjalanan dengan menyusuri jalan pedesaan dengan jalan bercabang yang membingungkan, jalanan itu mengantarkan saya sampai di titik di mana saya harus mulai trekking untuk menuju Teluk Hijau.

Sekadar info saja, untuk mengakses Teluk Hijau ini, kamu bisa menggunakan dua cara, pertama seperti yang telah saya lakukan waktu itu, ialah dengan trekking selama 30 menit menyusuri pantai dan hutan. Dan kedua, kamu bisa menggunakan jasa kapal penduduk dengan menyewanya. Untuk harganya saya kurang tahu, lain kalilah ya ke sana lagi. 😀

Setelah tiba di tempat parkir kendaraan, saya sempat beristirahat sejenak, ditambah dengan hujan mulai turun lagi disertai angin kencang, penduduk yang mengelola destinasi ini pun melarang saya untuk mulai trekking, katanya pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalur menuju Teluk Hijau ini rentan ambruk. Sehingga saya memutuskan untuk tetap diam sejenak sembari menunggu hujan reda.

Jalur trekking ke Pantai Teluk Ijo
Jalur trekking ke Pantai Teluk Ijo

Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya hujan mulai reda. Saya dan Yugo mulai trekking melewati hutan dengan jalanan licin sehingga membuat saya harus ekstra hati-hati. Yugo sempat terpeleset waktu itu karena saking licinnya.

Sebelum tiba di tempat tujuan, saya disuguhi pemandangan pantai yang tak kalah cantik. Ialah Pantai Batu, disebut Pantai Batu karena pantai ini penuh bebatuan. Entah darimana asalnya, saya lupa menanyakan hal ini.

Tak jauh dari pantai Batu, akhirnya saya menginjakkan kaki pertama kali di Teluk Hijau. Sumpah! Pantai ini cantik sekali. Hijau yang membiru, begitulah kesan saya ketika pertama kali melihatnya.

Hujan mulai turun saya hiraukan begitu saja kala itu. Sesekali saya berteduh untuk sekadar mengamankan barang bawaan saya, terutama kamera. Untungnya, terdapat gubuk kecil yang berdiri tak jauh dari bibir pantainya, lumayan bisa digunakan sebagai tempat berteduh sementara. By the way di sana banyak monyet liar yang berkeliaran, pastikan kamu selalu menjaga semua barang bawaanmu ya!

Hari mulai sore, beberapa rombongan juga sudah bersiap untuk kembali, begitu juga dengan saya. Setelah puas berfoto ria dan bermain dengan hujan. Saya sadar bahwa perjalanan saya pulang masih jauh dan pasti melelahkan. Kelak nanti, saya berharap bisa kembali ke sana lagi.

Jadi, seperti apa perjalanan kamu menuju Teluk Hijau? Bagi saya, meskipun perjalanan ini sangat melelahkan, tapi sepadan dengan apa yang didapatkan. Kamu harus ke sana!

Artikel terkait

2 Komentar

Tinggalkan Balasan