Suka Duka Perjalanan ke Banyuwangi Kala itu

Taman Nasional Baluran

Saya ingat betul pagi itu, kereta Sri Tanjung melaju dari kejauhan menghampiri saya yang tengah menantinya kala itu. Dinginnya pagi di Stasiun Lempuyangan waktu itu lumayan membuat saya sebenarnya membutuhkan sedikit pelukan secangkir teh panas untuk sekadar menghangatkan diri. Namun waktu tak lagi ingin menunggu, tepat di depan gerbong satu berhenti, saya pun segera masuk untuk mencari dimana saya akan menghabiskan 14 jam ke depan untuk terdiam membisu. Mendengar lamanya saya menunggu, rasanya saya ingin segera melaju. Segera tiba, dan segera mengeksplorasi Banyuwangi.

Tepat pukul 07.00 kereta Sri Tanjung melaju dari Stasiun Lempuyangan. Kereta ekonomi ini akan mengantarkan saya pada sebuah kota yang baru akan saya singgahi untuk kali pertamanya, Banyuwangi. Suasana pagi itu masih sangat sepi, tempat duduk di depan saya masih kosong, lumayan untuk selonjoran pikir saya. Namun, saya tak berharap banyak, perjalanan masih panjang. Suara kereta melaju dan berbagai aktivitas penumpang waktu itu membuat saya semakin antusias untuk segera tiba di sana. Padahal masih sekitar 13 jam lagi, waktu itu saya baru tiba di Stasiun Delanggu, stasiun kecil di kota kelahiran saya.

Kereta kelas ekonomi di Indonesia memang terkenal sebagai kereta paling sabar dan mengalah. Ia selalu mendahulukan kereta kelas bisnis atau eksekutif yang melaju di belakangnya. Ah, bakalan telat tiba di Banyuwangi, pikir saya.

Lima jam, tujuh jam, sembilan jam, dan suasana kereta mulai ramai akan penumpang yang mulai berdatangan dari berbagai daerah dimana mereka berasal. Tiada hal yang bisa saya kerjakan selain bosan, mulai dari ngobrol, baca buku, stalking mantan, sampai sejenak memejamkan mata sudah dilakukan. Sesekali saya berpindah tempat yang masih kosong untuk sementara karena dinginnya gerbong yang saya tumpangi. Maklum, orang desa kena AC dikit saja nggak betah. Sayang sekali ya, AC tidak bisa disesuaikan dengan kebutuhan penumpang, bisa jadi memang banyak penumpang yang tahan atau malah suka suasana dinginnya, berbeda dengan saya yang pasti bakal membuat saya drop dengan kondisi badan saya.

Dua belas jam berlalu, kondisi badan saya mulai merasakan pusing dan menggigil. Sesekali, Yugo mendekap dan mengalungkan syal untuk sekadar menghangatkan badan saya. Tak banyak yang bisa dilakukan karena kereta tak bisa dihentikan. Saya hanya bisa tidur untuk menahan segala yang saya rasakan waktu itu.

Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, kereta kelas ekonomi merupakan kereta yang sering mengalah dibandingkan kereta kelas lainnya. Telat beberapa menit dari jam seharusnya, membuat saya mulai lega karena saya akan segera merebahkan badan karena lelahnya perjalanan.

Beruntungnya malam itu, saya sudah menghubungi Mas Rachmat, pemilik rumah singgah gratis di Banyuwangi jauh-jauh hari. Beliau yang akan memberikan saya tumpangan gratis selama di Banyuwangi dan akan membantu perjalanan saya selama di sana.

Kondisi badan yang sangat lelah, menggigil dan saya mulai demam mengharuskan saya harus segera istirahat. Malam sudah larut, dan hampir semua toko tutup meskipun sebenarnya saya butuh obat untuk sekadar meredakan pusing malam itu. Tapi, tidak ada pilihan lain, besok pagi baru bisa pergi ke apotik untuk membeli obatnya.

Pagi itu, kondisi badan saya masih sama, pusing masih saya rasakan saat itu. Dan kemudian saya memilih untuk mengisi perut saya yang sudah keroncongan, makan yang banyak akan membuat saya sedikit membaik, pikir saya. Melihat kondisi saya yang sangat pucat, membuat si pemilik warung dekat rumah singgah merasa kasihan. Beliau menyarankan saya untuk pergi ke dokter yang dekat dengan lokasi saya, namun sayang selali, sang dokter sedang dinas ke luar.

Hal ini membuat saya semakin percaya bahwa meskipun saya tak memiliki hubungan persaudaraan dengan orang di sekitar saya, tapi mereka sangat baik memperlakukan saya. Segala perhatian dan usaha dari beberapa orang yang ada di sana membuat saya merasa ingin sembuh saja.

Dan pilihan terakhir sang pemilik warung memberikan satu tablet obat untuk saya minum. Tanpa berfikir ulang, saya kemudian meminumnya. Saya tak ingin perjalanan saya untuk kali pertamanya di Banyuwangi berakhir percuma. Setelah meminum obatnya, saya pun tetap melanjutkan perjalanan untuk mengekplorasi Banyuwangi. By the way, perbuatan saya waktu itu jangan ditiru ya. Jika sakit, beristirahatlah jangan malah nekat jalan-jalan. ?

Berawal dari pengalaman suka duka perjalanan ke Banyuwangi kala itu, beberapa waktu lalu saya mempunyai kesempatan untuk mendapatkan ilmu baru tentang kesehatan. Tepatnya acara ini mengangkat tema “cermat menggunakan obat”. Dengan mendengarkan beberapa penjelasan yang disampaikan oleh narasumber, saya semakin antusias untuk mendengarkan. Karena ini bisa menjadi bekal saya jikalau nanti terjadi sesuatu dengan saya dalam perjalanan-perjalanan selanjutnya.

Mari Hidup Sehat dengan Germas dan Cerdas Menggunakan Obat

Upaya bersama pemerintah dan masyarakat melalui rangkaian kegiatan dalam rangka mewujudkan kepedulian, kesadaran, pemahanam dan keterampilan masyarakat menggunakan obat secara tepat dan benar. Tujuannya ialah,

  1. Meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya penggunaan obat secara benar.
  2. Meningkatkan kemandirian dan perubahan perilaku masyarakat dalam memilih, mendapatkan, menggunakan, menyimpan dan membuang obat secara benar.
  3. Meningkatkan penggunaan obat secara rasional

Kian gencarnya Kementerian Kesehatan melakukan berbagai sosialisasi dari berbagai media baik langsung atau tidak langsung merupakan salah satu upaya agar masyarakat bisa mengetahui masalah penggunaan obat yang terjadi pada masyarakat, seperti,

  1. Kurangnya pengetahuan informasi tentang obat resep dokter.
  2. Kepatuhan pasien rendah sehingga efek obat tidak optimal.
  3. Mispersepsi tentang obat generik. Obat yang murah bukan berarti bukan murahan.
  4. Penggunaan obat terlalu bebas di lingkungan masyarakat.
  5. Dosis berlebihan, durasi yang tidak tepat, kejadian efek samping dan penyalahgunaan obat.

Nah, dari masalah penggunan obat yang terjadi pada masyarakat saat ini, Kementerian Kesehatan juga mempromosikan “Tanya Lima O” sebagai media paling mudah untuk masyarakat agar lebih aktif lagi dalam mencari informasi tentang obat. Tanya Lima O ini merupakan lima pertanyaan minimal yang harus diajukan sebelum kamu mengkonsumsi obat tersebut. Ialah,

  1. Obat yang telah dikonsumsi apakah memiliki efek samping?
  2. Obat ini bagaimana cara menggunakannya?
  3. Obat ini berapa dosisnya?
  4. Obat ini apa khasiatnya?
  5. Obat ini apa nama dan kandungannya?

Ah, ternyata nggak bisa sembarangan dalam memilih obat ya, pikir saya. Selama ini, bagi saya yang masih awam dalam dunia kesehatan, membuat saya semakin tahu dan semakin waspada akan berbagai obat yang beredar tanpa menggunakan resep dokter yang mulai meresahkan.

Beruntungnya anjuran Kementerian Kesehatan terhadap masyarakat untuk hidup sehat melalui GERMAS (gerakan masyarakat hidup sehat) pun lagi-lagi diingatkan tidak secara langsung untuk saya seperti melakukan aktifitas fisik minimal 30 menit, mengonsumsi sayur dan buah, dan memeriksakan kesehatan secara berkala. Meskipun masih sulit bagi saya melakukan kegiatan ini yang memang belum terbiasa.

Lebih baik mencegah daripada tidak sama sekali, bukan ?

 

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan