Batu Ratapan Angin, Ikon Wisata Dieng yang Keindahannya Memesona

Batu Ratapan Angin

“Dieng lagi Dieng lagi! Kamu nggak bosen ke sana terus? Lagian mau ke mana lagi sih, bukannya udah pernah?”

Dieng adalah salah satu obyek wisata favorit saya. Entah kenapa dingin yang mencekik hingga tulang-tulang membuat saya selalu rindu akan tempat ini. Memiliki kontur tanah dataran tinggi membuat kawasan ini begitu istimewa. Konon, desa tertinggi di Pulau Jawa pun, berada tepat di kawasan ini. Sebut saja Gunung Prau, empat kali sudah saya mendakinya, pun saya tak pernah bosan sama sekali. Pemandangan yang indah nan memukau adalah salah satu alasan saya. “Kelak, kamu harus mendakinya!”

Sebenarnya meskipun sudah berkali-kali saya menjelajah Dieng, tapi ini adalah kali pertamanya saya menginjakkan kaki di Batu Ratapan Angin, salah satu ikon wisata Dieng yang begitu istimewa. Terletak di kawasan Dieng Wetan, Batu Ratapan Angin cukup mudah untuk ditemukan . Kamu hanya cukup mengikuti jalur utama menuju ke Danau Telaga Warna, dan Batu Ratapan Angin tidak jauh dari sana.

“Siapa sih yang belum pernah ke Batu Ratapan Angin? Sepertinya hanya saya saja yang baru pertama kalinya ke sana!” 😂 Dulu jaman masih jomblo saya pernah hampir ke sana, namun hujan yang begitu lebat membuat saya harus merelakan keinginan untuk tak ke sana. Slengekan boleh, bodoh jangan. Medan yang cukup terjal karena letaknya yang berada di ketinggian membuat saya harus ekstra berhati-hati tentunya.

Satu hari sebelumnya hujan lebat menerpa kawasan Dieng, saya tak ingin berharap banyak sebenarnya. Daripada kecewa untuk ke dua kalinya kan. 😀 Namun ternyata, Tuhan memang baik, tepat kemarin itu Dieng begitu cerah luar biasa. Tentu saya bisa menjelajah dengan leluasa.

Jika kamu datang malam hari, dan menginap di hari sebelumnya seperti saya waktu itu, kemungkinan kamu tidak akan dikenakan biaya karena pos retribusi untuk masuk ke kawasan Dieng hanya sampai sore hari saja. Meskipun sebenarnya pos retribusi ini terletak pada dua titik. Pertama, berada di kawasan Wonosobo sebelum memasuki gerbang wisata Dieng Plateu yang tutup di kala sore hari. Dan yang kedua, berada di dekat Wana Wisata Petak 9, yang tak jauh pula dari Danau Telaga Warna. Tapi jika kamu sudah membayar tiket di titik pertama, kamu hanya cukup menunjukkan saja tiket yang sudah kamu beli sebelumnya. Tiket ini bisa kamu gunakan untuk memasuki kawasan Danau Telaga Warna dan Dieng Plateu Teater, jika ingin ke Batu Ratapan Angin, kamu akan dikenakan biaya sendiri sekitar Rp10.000 per orangnya.

Batu Ratapan Angin

Untuk menuju kawasan ini, kamu perlu mendaki kurang kebih 10 menit saja untuk yang kuat mendaki, kalau yang mendaki ibu-ibu sosialita ya maksimal 15 menit lah ya, dan saya termasuk salah satu dari mereka. 😂 Maklum, hampir 1,5 tahun tak mendaki dan olahraga. Ngeles aja kek bajaj! 😂

Batu Ratapan Angin
Batu Ratapan Angin

Di sana terdapat beberapa spot kece yang bisa digunakan untuk berburu foto selain Batu Ratapan Angin itu sendiri. Terdapat beberapa wahana seperti jembatan merah putih lengkap dengan wahana flying foxnya, rumah pohon, beberapa gardu pandang dengan view Danau Telaga Warna, dan terdapat beberapa warung yang berdiri. Dari sana juga kamu bisa melihat beberapa obyek wisata lainnya seperti Candi Bima dan Kawah Sikidang dari ketinggian. Oh ya, untuk khusus gardu pandang jika ingin berfoto kamu akan dikenakan biaya Rp5.000 per orang ya. Masih bisa terbilang murah kok. 😀

Langit biru, pepohonan hijau, dan sejuknya hawa pagi yang begitu merona. Ah, syahdu. Lebih lengkap lagi jika ditemani secangkir kopi dan suami. Yang nggak punya suami, buruan cari gih! 😂

Kamu udah pernah ke Batu Ratapan Angin belum? Hih ndeso! Piknik gih! 😜

Artikel terkait

15 Komentar

  1. “Siapa sih yang belum pernah ke Batu Ratapan Angin? Sepertinya hanya saya saja yang baru pertama kalinya ke sana!” <—- Saya saya sayaa,, saya belum, ke Dieng aja belum pernah 🙁

    Cakep banget yah danau telaga warna dari viewpoint ini..

    -Traveler Paruh Waktu

  2. Batu Ratapan Angin selalu masuk list itinerary ku kalau ke Dieng, tapi tiap kesana selalu ramai-penuh.. akhirnya cuma lewat ajah hehehehe
    #padahal msh penasaran sama itu 🙁

Tinggalkan Balasan