Batimung, Tradisi Unik Calon Mempelai Pengantin Perempuan Banjar

Beberapa waktu lalu, saya dan suami memiliki kesempatan untuk kembali mengunjungi keluarga yang ada di Banjarmasin. Karena adik ipar saya akan menikah pada waktu itu. Banjarmasin tetap tidak berubah seperti hampir dua tahun yang lalu. Kota yang sering mendapati sebutan sebagai kota seribu sungai ini masih tetap panas dan susah signal 😀

Nah, tiba di sana, rumah sudah ramai. Sudah banyak acil-acil (sebutan tante-tante di sana) sudah mulai sibuk mempersiapkan segala kebutuhan dalam pernikahan. Mulai dari memasak makanan ala Banjar sampai dengan adat-adat yang biasa dilakukan sebelum resepsi pernikahan.

Seperti salah satunya, Batimung misalnya. Batimung adalah spa tradisional yang dilakukan oleh calon mempelai pengantin perempuan dua atau tiga hari sebelum hari pernikahan agar bisa tampil segar dan menebarkan harum selama bersanding. Meskipun masih terbilang tradisional, sauna atau spa ini menjadi warisan turun temurun warga asli Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Beberapa ibu-ibu ikut menyiapkan berbagai rempah, seperti daun serai, limau (jeruk) purut, kunyit, pandan, temulawak, laos (lengkuas), serta bunga mawar, kenanga, cempaka, dan melati. Selain itu, juga disediakan beberapa jenis akar-akaran. Semua bahan direbus dalam satu panci. Nah, rebusan ini yang akan digunakan sebagai uap Batimung.

Sumber: kesultananbanjar.com
Sumber: kesultananbanjar.com

Sembari menunggu rebusan itu mendidih, biasanya calon mempelai pengantin perempuan dilulur terlebih dahulu. Waktu itu saya lupa ramuan apa saja yang digunakan untuk lulur, yang pasti ada beberapa rempah-rempah yang dihaluskan dan diratakan ke seluruh tangan, wajah dan kaki sang calon. Dan itu berlangsung selama dua kali pada malam hari kurang lebih dua jam, selama tiga hari berturut-turut.

Ketika rebusan rempah-rempah itu sudah mendidih, calon mempelai pengantin perempuan akan masuk dalam sebuah tikar yang berbentuk tabung setinggi leher, di dalamnya ada bangku kecil yang digunakan untuk duduk. Dan bagian atasnya akan ditutupi dengan kain yang mengitari lehernya. Jika di Jawa, semacam alat sauna tapi ini versi tradisionalnya. 😀

Selama di dalam tikar yang tertutup, sang calon mempelai pengantin perempuan akan diberi uap rempah-rempah tadi. Ia menaruh pancinya tepat didepannya, dan dibuka pelan-pelan sembari diaduk-aduk untuk mengeluarkan uap yang menimbulkan keringat terkucur.

By the way, waktu saya ke sana, saya juga berkesempatan untuk mencoba Batimung loh! 😀 Dan lagi, waktu itu badan saya terasa capek setelah menempuh perjalanan panjang. Lumayan dong untuk menghilangkan lelah dalam tubuh.

Selain sebagai tradisi, Batimung juga dipercayai menyembuhkan penyakit dalam tubuh seseorang melalui asap ramuan yang dikeluarkan oleh rempah-rempah itu sendiri. Seperti, menyembuhkan penyakit nggak punya duit misalnya penyakit kulit, bau badan, dan lain sebagainya. 😀

Karena saya adalah orang Jawa, tentu saya menyebutkan hal ini sangat unik. Jadi, prosesi adat pernikahan seperti apa yang ada di daerah kamu? Apakah ada Batimung seperti adat masyarakat Kalimantan Selatan? Kutunggu ceritamu ya! Oh ya, saya tidak terlalu banyak mendokumentasikan prosesi ini, bagi saya cukup sebagai koleksi pribadi saja. 😀

 

Artikel terkait

5 Komentar

Tinggalkan Balasan