Solo Traveling? Siapa Takut!

Saat ini beragam cara dilakukan seseorang agar bisa menikmati waktu liburannya dengan sempurna. Baik menghabiskan waktu traveling bersama keluarga, pacar, ataupun hanya sendirian. Seperti yang saya lakukan beberapa hari terakhir ini, melakukan solo traveling selama tiga hari untuk menjelajah Pulau Bali.

Sebelum menikah, solo traveling memang sudah menjadi style perjalanan saya. Dan ini menjadi pengalaman pertama saya setelah menjadi seorang istri. Ada senangnya ada khawatirnya.

Solo traveling membuat saya bebas menentukan waktu, budget dan juga destinasi yang saya mau

Bagian ini adalah bagian yang saya suka dan sebagai alasan mengapa saya lebih suka solo traveling. Saya lebih nyaman melakukan apapun sendirian. Mulai dari waktu, karena saya adalah seorang hotelier tentunya waktu saya akan berantakan jika disamakan dengan suami ataupun pegawai-pegawai lainnya. Intinya sih, saya bakalan susah libur weekend. Dari segi budget dan destinasi, solo traveling bisa dikatakan sangat menguntungkan. Tidak perlu bingung mau makan apa atau tidur di mana, semuanya diatur secara fleksibel termasuk akan ke mana. Selama tiga hari di Bali, saya makan dan tidur menyesuaikan budget. Tidak harus mewah, yang penting kenyang dan nyenyak. ๐Ÿ˜€

Solo traveling memaksa saya untuk saling mengenal satu sama lain

Saya termasuk orang yang gampang-gampang susah dalam bersosialisasi satu sama lain. Beruntung selama tiga hari ini, saya dipertemukan dengan orang-orang yang ramah dan baik. Mulai dari mereka yang sukarela membantu mengambil foto saya sampai menjadi teman ngobrol di hostel tempat saya menginap. Karena adanya mereka, saya memiliki keluarga baru dengan berbagai macam karakter istimewa.

Solo traveling adalah semacam โ€˜me timeโ€™

Setiap orang membutuhkan โ€˜me timeโ€™! Baik orang yang berstatus single jomblo maupun sudah menikah, saya percaya mereka juga butuh kesempatan untuk diri sendiri. Meskipun hal ini bisa dilakukan dalam banyak hal. Sedangkan saya lebih suka bepergian sendirian. Tidak harus ke Bali seperti yang saya lakukan saat ini, jika saya libur saya seringnya menikmatinya sendirian. Entah ke salon, menikmati kopi, bahkan seharian penuh di rumah hanya untuk nonton drama korea.

Solo traveling membuat saya semakin mengenali diri sendiri dan tahu apa kemauan diri. Saya bisa menjadi egois dalam sekali waktu sampai menjadi orang sesuka hati. Tapi dalam konteks ada batasannya lho ya. ๐Ÿ˜›

Batu Ratapan Angin
Batu Ratapan Angin

Dengan solo traveling sama dengan menggali inspirasi

Saya lebih suka berimajinasi ketika sedang sendirian. Dengan sendiri, saya selalu menemukan banyak inspirasi yang akan dengan mudah saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Konon melalui tulisan, seseorang bisa menjadi sebebas-bebasnya dan menjadi diri sendiri. Dan kali ini, saya mempercayai hal itu.

Tidak secara langsung solo traveling memaksa saya untuk terus berkarya, bukan untuk orang lain. Melainkan untuk diri sendiri. Melakukan apa yang ingin dilakukan, karena hal ini tidak ada batasannya. ๐Ÿ™‚

Tidak akan masalah jika solo traveling

Meskipun solo traveling terkesan mengenaskan, tapi percayalah pergi sendirian itu ada sisi asiknya. Jika destinasi wisata yang kamu tuju adalah sebuah hutan atau pantai yang memerlukan tenaga ekstra untuk berjalan menanjak atau menurun, kamu hanya akan menyesal sendirian. Tidak semua traveler suka melakukan hal-hal ekstrim, terlebih jika hanya membuat mereka lelah. Mereka akan lebih memilih pergi ke tempat yang nyaman dan mudah untuk dijangkau.

Seperti hari ini, saya pergi ke Monkey Forest sendirian. Dan yang mengejutkan adalah, jarang saya menemukan wisatawan lokal. Dengan medan naik turun tangga dan berjalan jauh mengelilingi cagar alam, membuat saya yakin bahwa tidak semua traveler mau pergi ke sana.

Meskipun solo traveling membuat saya jarang berada dalam layar kamera, tapi dengan begitu membuat saya mau tidak mau harus mengatakan โ€˜tolongโ€™ kepada orang lain. ๐Ÿ™‚

Solo traveling itu belajar membuat orang percaya

Berjalan sendirian bagi saya adalah membentuk sebuah kepercayaan. Saya harus memegang sebuah kepercayaan yang diberikan kepada suami. Pun begitu dengan traveler lainnya. Meskipun hal sederhana ini sangat sulit dilakukan, tapi percayalah, dengan solo traveling membuatmu terlatih untuk menjadi orang yang bisa dipercaya.

Solo traveling sama seperti belajar tentang manajemen diri dan berempati

Solo traveling bagi saya adalah belajar tentang manajemen diri. Mulai dari pengeluaran sampai dengan kebutuhan diri sendiri saya adalah si pengendali. Jika tidak dilakukan dengan bijak, semuanya akan berantakan.

Selain itu solo traveling mengajarkan saya tentang berempati. Selama di Bali, tidak peduli mereka berasal dari negara mana, tidak peduli apa kepentingan mereka dan tidak peduli siapapun mereka, selama ada rasa empati yang tinggi itu tidak akan menjadi masalah yang berarti. Intinya sih, bagaimana mengendalikan dan membatasi diri. ๐Ÿ™‚

Jadi, sudah siapkah kamu solo traveling? Demi pengalaman, kamu bisa loh mencobanya! Sama seperti yang saya lakukan dalam beberapa hari terakhir ini di Bali. ๐Ÿ™‚

 

Happy traveling!

Artikel terkait

2 Komentar

Tinggalkan Balasan