Bali Pulina: Jauh-Jauh ke Bali Cuma Mau Ngopi

Ini perjalanan ke sekian saya ke Bali setelah hampir satu tahun lebih tidak menginjakkan kaki ke sana. Istimewanya adalah, saya bepergian seorang diri alias solo traveling! Memang sudah menjadi style saya pergi sendirian ke suatu tempat. Intinya sih berani aja, seperti yang saya lakukan tiga hari kemarin.

Mendengar Bali Pulina, tentunya sudah tidak asing lagi bukan? Destinasi wisata yang satu ini, memang sengaja saya masukkan ke daftar list tujuan saya. Kenapa harus ke Bali Pulina? Saya jauh-jauh ke Bali cuma pengen ngopi! 😛

Sebenarnya sudah lama agrowisata ini menjadi incaran saya, hanya saja suami nggak doyan dengan kopi. Makanya ketika saya datang ke Bali dan ingin memenuhi hasrat ngopi, saya bakalan mikir dua kali. 😀

Terletak di kabupaten Gianyar, Bali Pulina adalah sekian dari agrowisata yang menawarkan wisata dengan mengenalkan berbagai macam jenis kopi. Hanya saja, saya baru tertarik dengan Bali Pulina, sehingga hari pertama saya di Bali, saya habiskan setengah hari waktu saya untuk sekadar menikmati secangkir kopi di sana.

Bali Pulina
Bali Pulina

Bali Pulina bisa ditempuh kurang lebih 90 menit dari pusat kota, perhitungan ini sesuai dengan maps yang saya miliki ya, kalau pakai nyasar ya bakalan lain cerita lagi.

Nah, tiba di area parkir, saya sudah disambut ramah oleh petugas Bali Pulina. Untuk bisa masuk ke kawasan agrowisata ini, setiap orang akan dikenakan biaya Rp100.000. Wah kok mahal? Tenang! Biaya itu sudah termasuk mini tour dengan didampingi seorang guide untuk melihat cara pengolahan kopi luwak secara langsung. Dan sudah termasuk delapan cangkir kopi, jajanan pasar dan camilan sebagai pendampingnya. Anggap saja biaya itu seperti kita membeli kopi di coffee shop, satu cangkirnya rata-rata dihargai Rp25.000 kan? 😛

Di sana juga, guide akan dengan senang hati menjelaskan semuanya secara detail. Bagaimana biji kopi yang diolah oleh luwak sampai dengan kopi yang sudah siap untuk disajikan.

Luwak yang dibiarkan begitu saja akan menghasilkan kotoran biji kopi yang nantinya akan diolah lebih lanjut menjadi biji kopi istimewa. Ada dua hewan luwak yang sempat saya lihat. Ada warna hitam dan juga warna coklat. Meskipun tidak ada perbedaan dari hasil biji kopinya.

Setelah puas melihat aktifitas luwak, saya diajak ke sebuah dapur mini di mana biji kopi itu diolah. Sudah ada ibu-ibu paruh baya yang sedang menyangrai beberapa biji kopi.

Sebelum ke bagian menyangrai, saya juga melihat hasil kotoran biji kopi yang dihasilkan luwak sebelumnya. Di mana biji kopi itu dikeringkan, kemudian dipisahkan secara manual. Biji kopi yang utuh akan diolah menjadi biji kopi yang berkualitas tinggi. Sedangkan biji kopi yang pecah juga dipisahkan. Baru setelahnya dicuci guna mensterilkan biji kopi tersebut.

Dan setelahnya, biji kopi yang sudah dipisahkan akan disangrai dalam waktu tertentu sampai menguar aroma khas kopi luwaknya.

Sekadar informasi saja, di Bali Pulina ini, biji kopi luwak yang sudah matang hanya ditumbuk secara manual lho. Dan untuk hasilnya pun sangat sempurna. Aroma khas kopi luwak yang dihasilkan memang layak dikatakan istimewa. Baunya itu loh. 😍

Saya juga berkesempatan untuk mencoba menyangrai biji kopinya. Ibu-ibunya ramah dan sopan banget. Terlebih saya datang ke sana sendirian, saya bisa berlama-lama di sana tanpa harus dikejar oleh waktu.

Karena saya tidak ingin terlalu lama mengganggu, saya memilih menuju ke area cafe atau restorannya. Di sekitar restoran, terdapat banyak tanaman kopi yang sengaja ditanam di sana. Kebanyakan darinya adalah kopi arabica, dibandingkan jumlah kopi robusta yang lebih sedikit daripada arabica.

Selain tanaman kopi, juga terdapat tanaman herbal, seperti tanaman kayu manis, gingseng, jahe, sereh, cokelat, dan lain-lain. Tentu tanaman tersebut akan dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan minuman di sana.

Tiba di sebuah restoran. Saya sempat berdecak kagum. Penikmat kopi luwak kebanyakan adalah seorang bule lho. Jarang saya menemui wisatawan lokal, entahlah. 😀

Bali Pulina
Bali Pulina

Ada satu tempat yang menarik perhatian saya. Adalah Kembang Kopi Stage, semacam gardu pandang berukuran besar yang konon katanya gardu pandang ini berbentuk biji kopi. Oh ya? Yang nggak percaya tolong datang ke sana langsung ya! 😂

Beruntung cuaca saat itu sedang mendung. Saya bisa duduk di meja paling dekat dengan gardu pandang tanpa harus khawatir kepanasan. Syahdu bukan?

Tak lama kemudian, seorang waitress membawakan kopi saya. Berikut dengan pisang goreng, lopis gula jawa dan juga keripik ubi. Nggak tanggung-tanggung, aneka kopi yang dibawakan untuk saya ada delapan (demitase cup) cup kecil sebagai tester. Bagian yang paling saya sukai. 😀

Jika kamu menghendaki lebih, kamu akan diberi secara cuma-cuma lho alias gratis. Seperti saya kemarin, saya minta hot lemon tea dikasih gratis kok. Kecuali kopi luwaknya tapi. 😛

Delapan aneka kopi itu adalah hot lemon tea, hot ginger tea, ginger coffee, gingseng coffee, chocolate coffee, pure cocoa, vanilla coffee dan bali coffee. Dan yang menjadi favorit saya adalah hot lemon tea dan gingseng coffee nya 😀

Menghabiskan waktu sembari menikmati kopi di Bali Pulina memang menjadi momen langka yang saya lakukan. Yang biasanya di Jogja saya juga sering menikmatinya di coffee shop. Tapi lain cerita jika di sini, pemandangannya yang tak kalah istimewa menambah suasana syahdu siang itu.

Kalau dirasa belum puas menikmati kopi, kamu juga bisa membeli kopi yang sudah disajikan tadi. Ada toko suvenir yang menjajakan kopi olahan Bali Pulina kok. Kamu bisa membawanya sebagai buah tangan untuk orang kesayangan di rumah.

Kembang Kopi Stage
Kembang Kopi Stage

Jadi, bagaimana dengan harimu? Seindah saat saya menikmati kopi dengan pemandangan hamparan sawah yang memukaukah? Mengeluarkan biaya Rp100.000 untuk pengalaman menakjubkan ini, saya rasa sepadan kok! 😛

Artikel terkait

8 Komentar

Tinggalkan Balasan