Sudah Menikah Tak Kunjung Memiliki Anak? Bu, Saya (Tidak) Baik-Baik Saja

Menikah memang menjadi suatu momen yang selalu dinantikan untuk wanita usia kisaran dua puluhan tahun. Seperti yang pernah saya rasakan dua tahun lalu. Keinginan untuk menikah kentara saya rasakan waktu itu. Dan akhirnya Oktober dua tahun lalu saya dan suami mengucapkan janji suci pernikahan di hadapan semua orang dan Tuhan.

Setelah menjalankan kehidupan setelah pernikahan tentu saja saya memiliki rencana jangka panjang. Seperti memiliki anak, hidup mandiri dan terlepas dari orang tua, sampai keinginan untuk memiliki rumah sendiri. Semuanya tertata apik dalam daftar keinginan saya. Selain keliling dunia.

Namun, bukan suatu hal yang mengagetkan jika dalam perjalanan kehidupan semua akan nampak baik-baik saja. Bagaimana tidak? Menyatukan dua kepribadian yang berbeda terasa sangat sulit saya jalani. Bahkan sampai detik ini saja, saya masih kesulitan mengenali karakter suami saya sendiri. Wajar. 🙂

“Wes isi rung, nduk?”

“Wes bathi rung, nduk?”

“Sudah dua tahun menikah kok belum punya momongan sih? Kamu sengaja menunda ya?”

“Loh, kapan nih punya anak? Jangan ditunda, biar nanti masih bisa melihat anak kita berhasil.”

“Jangan memelihara kucing, udah tahu kan bahaya kucing? Kamu nggak peduli sama kesehatan kamu? Kamu nggak pengen hamil?”

“Jangan capek-capek. Nggak usah kerja. Yang kerja biar suami kamu saja.”

Bahkan pertanyaan demi pertanyaan selalu saya dengar hampir setiap hari dan setiap saat. Beruntung bahwa saya adalah tipikal yang cuek. Sehingga untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang nggak berpengaruh dengan kehidupan saya, bisa saya abaikan begitu saja.

Namun, cuek saja tidak cukup kan? Menjadi sosok wanita yang luweh atau tidak peduli dengan kehidupan sekitar berarti hidupnya telah mati dan tidak berhati. Luarnya saja saya cuek, tapi dalam hati saya, saya hanya bisa merapalkan doa untuk selalu dikuatkan.

Yang jadi pertanyaan adalah, siapa yang tidak ingin mendapatkan momongan setelah menikah bertahun-tahun? Saya jawab, tidak ada. Mungkin.

Berbagai cara saya—dan mungkin wanita-wanita hebat di luar sana— lakukan hanya demi mendapatkan seorang anak dan demi kelangsungan hidup ke depannya.

Tapi, siapa yang peduli dengan kehidupan itu? Siapa dari mereka yang mengetahui bahwa jauh dari sebuah rencana baik yang saya atur sedemikian rupa, tetap hanya Gusti yang menentukannya?

Saya juga berusaha dan memiliki keyakinan bahwa Gusti memiliki rencana baik untuk saya. Itulah mengapa saya terlihat baik-baik saja. Toh, mau memiliki anak atau tidak, itu memang sudah menjadi yang terbaik untuk saya dan kehidupan orang lain, kan?

Mari belajar menghargai. Belajar bagaimana kita bisa menjaga perasaan seseorang. Belajar memilih diam daripada harus melontarkan sesuatu yang berakhir melukai hati orang itu sendiri.

Bukankah perihal takdir memang bukan kuasa kita, melainkan kuasa Gusti?

Teruntuk wanita-wanita hebat di luar sana dan saya, kalian hebat, kalian sempurna dan kalian pasti baik-baik saja. Memang begitulah hidup. Saya tidak bisa membungkam mulut banyak orang, melainkan saya hanya bisa berusaha dan pasrah dengan keputusan Gusti.

Kalian mengira saya baik-baik saja? Tentu tidak! Tapi saya sangat berterima kasih karenanya saya mampu bertahan hingga sejauh ini.

Bu, saya baik-baik saja.

“Nduk, Ibu wes pengen duwe momongan.” meskipun saya tahu, Ibu sedang berusaha menguatkan saya.

Terima kasih karena sudah menjadi sosok ibu yang baik dan sabar dengan segala perkataan orang. Saya sangat yakin, Ibu pun sama halnya seperti saya. Saya percaya, ibu pun percaya dengan saya. Dan terima kasih karena selalu memberikan pundak yang siap saya jadikan tumpuan sampai saat ini.

Bu, saya baik-baik saja.

Katamu hidup itu begitu mudah dijalani? Benar, Bu. Saya menjalaninya dengan sangat mudah. Ibu nggak perlu khawatir. Sekali lagi, saya baik-baik saja dan bisa menjalani semuanya.

Bu, saya baik-baik saja.

Cukup jadi Ibu yang siap memberikan pundak yang kokoh saja, Bu. Barangkali saya akan tumbang sewaktu-waktu.

Teruntuk suami-suami hebat di luar sana, jangan pernah mengira bahwa istrimu tidak sempurna. Bahkan merekalah yang terlampaui sempurna. Jangan menyerah untuk selalu berada di samping mereka, karena saya tahu sendirian dan menanggung beban seperti ini itu tidak enak. Kami butuh kalian yang tak kalah hebatnya.

Banyak wanita-wanita hebat di luar sana yang sedang berjuang dan selalu ingin dihargai.

Bukankah sesederhana itu?

 

Artikel terkait

6 Komentar

    1. Saling menghargai dan menjaga perasaan seseorang itu penting. Terlebih sudah menyangkut perihal kuasa Tuhan. Suka geregetan aja sama orang-orang yang sering mencampuri urusan Tuhan. hehe. Nggak papa sih, tanpa mereka nggak bakal ada kehidupan drama kok. 🙂

  1. semoga segera diberikan momongan, ka.. aku pun mengalami hal yang sama.. Tapi di lingkunganku sih jarang sih nanya2 begitu,, eh atau akunya aja yg terlalu cuek ya..

    -Traveler Paruh Waktu

  2. Itulah alasan kenapa aku sekarang nggak mau tanya2 ke orang “kapan nikah?”, “kapan punya anak?”, “kapan nambah momongan?” dan kapan-kapan yang lain. Setiap orang pasti sedang berjuang untuk menjawab pertanyaan itu dan bukan tugas saya buat menambahi beban. Support aja, nggak usah kepo, kecuali mereka yang cerita. Etapi kalau tanya kapan nikah kadang masih sih, sama teman-teman dekat dan buat gojek.

Tinggalkan Balasan